Jakarta (ANTARA News) - Arkeolog asal Belanda, Roy Jordan meluncurkan buku "Memuji Prambanan" yang menyatakan Candi Prambanan sebagai kuil `air suci` (`holy water' sanctuary), pada akhirnya mengundang perdebatan, di Jakarta, Senin.

Buku dengan judul asli "In Praise of Prambanan" bertujuan untuk menolong pembaca yang tidak mengerti berbagai penerbitan mengenai candi-candi yang dilakukan oleh NJ. Krom, seorang Arkeolog Belanda, yang menuliskan dalam bahasa Belanda.

Menurut Roy Jordan, fungsi halaman utama candi tersebut, bahwa memang didesain untuk menampung air suci.

"Berdasarkan relief yang terdapat pada candi terhubung dengan hipotesis yang pernah ia utarakan sebelumnya, halaman pusat dirancang untuk diisi dangan air pada hari raya Hindu tertentu sebagai upaya penghidupan kembali kisah penyebrangan Rama dan Sinta ke Sri Langka," kata Roy.

Perdebatan yang terjadi disini dikarenakan, kondisi tanah pada daerah sekitar Candi Prambanan yang merupakan gunung kapur tidak dapat menyerap air.

"Arkeolog sekarang tidak menduga bahwa fungsi halaman pusat Prambanan adalah sebagai waduk untuk air suci yang digunakan pada saat-saat tertentu saja," kata Roy.

Menurutnya sumber air candi Prambanan berasal dari tampungan air hujan, adanya saluran di bawah tanah dari utara yang langsung masuk ke kompleks percandian, di situ juga terdapat lubang air yang bisa dibuka dan dibuang, kemudian air yang tertampung di sana merupakan pekerjaan manusia atas perintah dari raja yang berkuasa saat itu.

Menepis pendapat Roy, Guru Besar Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Indonesia (FIB UI), Profesor Doktor Moendadjito menyatakan bahwa tidak mungkin ada air di daerah dengan ketinggian 550 meter diatas permukaan laut dengan permukaan tanah gunung kapur.

Menurutnya Kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya aktivitas serapan air, air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan segera mengalir ke daerah Selatan.

Namun Profesor Moendadjito menuturkan bahwa buku "memuji Prambanan" sebagai buku yang bagus, karena bagaimanapun juga dia membawa banyak data yang dulu kita tidak punya.

"Terlebih lagi data yang terdapat dalam buku ini semua tertulis dalam bahasa Indonesia, sehingga dapat memudahkan peneliti muda yang tidak mengerti bahasa Belanda,"

Menurutnya buku ini sangat membantu karena sebelumnya buku yang menyangkut masalah Candi Prambanan hanya diterbitkan dalam bahasa Belanda.

"Roy juga mengangkat banyak isu seperti gambar-gambar relief, kolam tanggal kejadian dan lain sebagainya, justru itu yang membuat buku ini menarik," tutupnya.

Hingga akhir diskusi mengenai asal air dan fungsi halaman utama sebagai waduk kecil untuk menampung air suci, masih belum ditemukan kesepakatan hingga adanya bukti empiris baru bisa diusung oleh penelitian lanjutan di Candi tersebut.

Candi Prambanan merupakan gugusan candi terbesar di Jawa Tengah yang masih terbuka untuk diteliti lebih lanjut, buku ini adalah salah satu upaya untuk menguak misteri yang tersimpan di lingkungan Candi Prambanan.

Kajian lanjutan dari Candi Prambanan mencakup arsitektur, gaya seni arca seni relief, dan masyarakat Jawa kuno

Prambanan patut dipuji sebagai karya monumenter masyarakat Jawa kuno abad ke sembilan, karena hingga sekarang masih tetap bertahan dengan segala permasalahannya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009