New York (ANTARA News/AFP) - Harga minyak mentah "rebound" atau berbalik naik pada Rabu waktu setempat, setelah tiga sesi turun, didukung oleh penurunan cadangan minyak mentah di AS.

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah "light sweet" untuk pengiriman pada Juli, berakhir pada 71,03 dolar AS per barel, bertambah 56 sen dari penutupan Selasa.

Di London, minyak mentah "Brent North Sea" untuk penyerahan Agustus naik 61 sen menjadi 70,85 dolar AS per barel.

Acuan kontrak New York telah kehilangan hampir dua dolar AS dalam tiga sesi lalu dan dibuka turun tajam pada Rabu, di bawah 70 dolar AS, sebelum kembali ke wilayah positif di akhir perdagangan.

Sebuah laporan pemerintah menunjukkan cadangan minyak mentah AS jatuh dalam sepekan lalu untuk kali kedua pekan berturut-turut, secara mengejutkan turun tajam 3,9 juta barel.

"Saya tidak berpikir hal itu, terutama pasar dikejutkan penarikan minyak mentah," ujar Andy Lipow dari Lipow Associates. Tapi, ia menambahkan, "ia tak menduga seberapa besar yang ditarik akan terjadi."

Untuk analis Natixis, Nic Brown, kejutan besar adalah meningkatnya stok bensin yang dilaporkan oleh Badan Informasi Energi (EIA) pemerintah Amerika Serikat, yang sebelumnya telah dipertimbangkan pada harga minyak.

EIA mengatakan, cadangan bensin naik 3,4 juta barel pekan lalu, jauh melampui konsensus banyak analis yang meramalkan naik 300.000 barel.

Brown mengatakan, lompatan tersebut mencerminkan tidak hanya peningkatan oleh pabrik penyulingan dari proporsi bensin dalam produkc ampuran mereka, tetapi impor bensin meningkat sebesar 200.000 barel per hari ke posisi mingguan tertinggi sejak pertengahan April.

Persediaan bensin yang dipantau cermat saat ini pada tahun ini, karena orang Amerika melakukan perjalan dalam jumlah besar untukliburan musim panas mereka.

Harga minyak telah mendapat dukungan dari beberapa kerusuhan politik di Iran, menurut Jason Feer analis pasar energi Argus Media.

"Itu salah satu dari hal-hal di mana bila di sana ada sebuah kemungkinan produsen besar di Teluk memiliki masalah, akan ada reaksi pergerakan harga di pasar," ujar Feer.

Sementara itu di Nigeria, Royal Dutch Shell pada Rabu mengatakan, pihaknya telah menunda pengiriman minyak mentah dari terminal ekspor Nigerian Forcados selama dua bulan karena keterlambatan dalam perbaikan sebuah pipa utama yang dirusak oleh vandalis.

Perusahaan itu menambahkan, pihaknya telah mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki pipa dan melanjutkan produksi.

Shell telah menjadi target serangan militan di Nigeria selatan selama tiga tahun, memaksanya untuk menutup beberapa fasilitas dan menangguhkan kewajiban kontrak kepada para pelanggannya.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009