Kisah Meliana, pasien pertama Sumut yang sembuh dari COVID-19

Kisah Meliana, pasien pertama Sumut yang sembuh dari COVID-19

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan (GTPP) COVID-19 Sumatera Utara (Sumut), Aris Yudhariansyah melakukan konferensi video dengan mantan pasien COVID-19, dr. Maliana, M.Kes. Kasie Pelayanan Medis Rawat Inap RSUP H.Adam Malik, di Media Center GTPP COVID-19 Sumut. ANTARA/HO-Dinkes Sumut

jangan stres, tertekan, terpuruk dan sedih berlebihan
Medan (ANTARA) - Maliana atau akrab disapa dr. Ana merupakan Pasien dengan Pengawasan (PDP) 04 asal Sumatera Utara yang menjadi pasien sembuh pertama dari provinsi itu.

Setelah isolasi selama 20 hari (24 Maret - 4 April) di RSUP Adam Malik dia dinyatakan sembuh oleh tim dokter pada 30 April 2020 dan menceritakan kisah kesembuhannya.

Ana di Medan, Jumat menjelaskan, dia tertular COVID-19 usai dua kali melakukan perjalanan ke Jakarta. Kedua perjalanannya tersebut bertujuan untuk memperdalam pengetahuan penanganan COVID-19.

Pertama dr. Ana yang merupakan Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan Medis Rawat Inap RSUP H. Adam Malik bertugas ke Jakarta pada 4-7 Maret untuk mengikuti workshop Kemenkes terkait COVID-19 dan kemudian 11 hingga 13 Maret untuk studi banding ke Kemenkes terkait ruang isolasi di RS Adam Malik.

Namun ia baru merasakan gejalanya pada 15 Maret setelah berada di Medan dan gejalanya saat itu hanya batuk dan flu, tanpa demam dan sesak.

Baca juga: Bertambah 69 orang, 1.591 pasien sembuh dari 10.551 positif COVID-19
Baca juga: PMI DKI siap fasilitasi pengambilan plasma darah pasien sembuh COVID


Pada Minggu, 15 Maret, Ana masih sempat bekerja ke RS Adam Malik dan kontak dengan beberapa orang, namun pada saat itu dia sudah menerapkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.

Besoknya dia merasakan lemas dan memutuskan mengisolasi mandiri di rumah.

"Minggu itu saya masih sempat ke kantor, tetapi untungnya saya memakai masker dan menjaga jarak. Senin badan saya terasa lemas dan Selasa gejalanya berkurang, hanya tinggal batuk saja. Saya kemudian di tes swab oleh tim medis RS Adam Malik dan tanggal 24 hasilnya keluar, saya positif,” terang dr. Ana.

Dr. Ana mengaku terkejut dengan hasil tesnya, dia juga merasa sedih dan cemas karena belum tahu seperti apa efek virus baru ini ke tubuhnya.

"Kaget, sedih dan cemas memikirkan bagaimana dengan keluarga-keluarga saya yang sudah kontak dengan saya. Tetapi, saat itu saya yakinkan saya pasti sembuh. Dan dengan dukungan teman-teman, keluarga saya dan tentu mendekatkan diri kepada Allah saya semakin yakin,” tambah  Ana.

Baca juga: Pasien di Penajam sembuh dari COVID-19 sebut jangan takut dikucilkan
Baca juga: Gugus Tugas: Delapan pasien positif COVID-19 di Bali dinyatakan sembuh


Ana dan timnya merupakan orang-orang yang mempersiapkan fasilitas-fasilitas untuk penanganan COVID-19 di RS Adam Malik. Itu membuat Ana merasakan sendiri fasilitas-fasilitas perawatan yang dia siapkan bersama timnya.

Ana mengaku pengalaman selama isolasi ini malah menjadi penguatan untuk penanganan COVID-19 dan masukan kepada Direksi Rumah Sakit.

"Saya merasakan sendiri menjadi pasien COVID-19 dan dirawat di RS tempat saya bekerja. Saya menjadi sangat mengerti perasaan pasien dan apa-apa saja fasilitas yang masih kurang di RS. Saya terus mencatat apa-apa yang perlu diperbaiki dan saya beri tahu Direksi, alhamdulillah Direksi menerimanya,” katanya.

Sekarang Ana sudah mulai bekerja kembali dan pengalamannya sebagai pasien COVID-19 membantunya untuk memperkuat penanganan pandemi ini dan ia juga mengaku tidak didiskriminasi tetangga, rekan kerja dan teman-temannya.

"Tidak ada yang berperilaku berlebihan kepada saya, rekan kerja, tetangga, teman semuanya memberikan dukungan. Memang mungkin mereka ada rasa takut dan saya rasa itu wajar karena adanya informasi pasien yang sudah sembuh terinfeksi kembali. Tetapi, saya rasa tidak yang berlebihan,” katanya.

Kasi Pelayanan Medis Rawat Inap RSUP H. Adam Malik ini berpesan agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Pesan khusus dia berikan kepada pasien yang sedang dirawat agar tidak stres, terpuruk, sedih berlebihan karena menurutnya itu hanya menurunkan imun tubuh.

"Jangan stres, tertekan, terpuruk dan sedih berlebihan karena itu hanya akan memperlemah imun tubuh kita. Dan masyarakat Sumut bantulah tim medis dengan mematuhi protokol kesehatan," katanya.

Baca juga: Eijkman: Pasien sembuh COVID-19 bisa terinfeksi kembali
Baca juga: Pengalaman dua WNI yang sembuh dari COVID-19 di Kamboja

 

Pewarta: Juraidi
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Psikolog : COVID-19 bukan aib, jangan enggan lapor jika positif

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar