Jakarta, 14/9 (ANTARA) - Bupati Yahukimo Ones Pahabol mengatakan, kegagalan panen ubi membuat 26 dari 51 distrik di wilayahnya kekurangan pangan.

"Hujan berkepanjangan yang terjadi di distrik-distrik itu membuat ubi jalar yang ditanam tujuh hingga delapan bulan lalu tidak bisa dipanen sesuai harapan," kata Ones di kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat di Jakarta, Senin.

Hal itu dikatakannya usai menghadiri rapat koordinasi penanggulangan masalah pangan di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.

Ones menambahkan, budidaya ubi jalar di wilayah itu masih dilakukan secara tradisional sehingga hasilnya baru bisa dipanen dalam waktu tujuh bulan hingga sembilan bulan setelah masa tanam.

"Tidak seperti di Jawa, karena ditanam dengan sistem budidaya yang baik hasilnya bisa dipanen dalam waktu empat bulan," katanya.

Ones menjelaskan pula bahwa ubi jalar merupakan satu-satunya tanaman pangan yang dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat di wilayah itu.

Sehingga kegagalan panen membuat mereka sama sekali tidak punya persediaan pangan.

"Distrik yang gagal panen tahun ini bukan distrik yang sudah mendapatkan pendampingan teknik budidaya ubi karena warganya kelaparan akibat gagal panen tahun 2006 lalu," tambahnya.

Kegagalan panen ubi pada ke-26 distrik tersebut, kata dia, membuat suku-suku yang tinggal di daerah pedalaman tidak bisa makan selama beberapa hari sehingga rentan terserang penyakit yang tidak jarang berujung kematian.

Hal tersebut, lanjut dia, terjadi pada suku Unaukam, Kemial, Mek dan Yali yang tinggal di daerah pegunungan di ke-26 distrik tersebut.

Pemerintah Kabupaten Yahukimo mencatat, sebanyak 92 orang dari ke-26 distrik dilaporkan meninggal dunia karena kekurangan pangan dan penyakit selama Januari-Agustus 2009.

"Sebanyak 65 persen meninggal dunia karena penyakit yang muncul akibat kekurangan pangan, sisanya karena diare dan infeksi saluran pernapasan atas," kata Kepala Suku Dinas Pelayanan Kesehatan Kabupaten Yahukimo Wiklif Balingga.

Pemerintah pusat pada Selasa (15/9) berencana menurunkan tim pendampingan untuk meninjau distrik-distrik rawan kekurangan pangan di Yahukimo.

Serta merencanakan model intervensi dan menakar kebutuhan bantuan pangan untuk masyarakat di wilayah itu.

"Beberapa distrik akan ditinjau, tapi tidak semua, karena biaya transportasi di sana sangat mahal," kata Rizal Mallarangeng, staf khusus Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang menjadi bagian tim asistensi penanggulangan masalah kelaparan di Yahukimo tahun 2006.

Pemerintah, kata dia, juga segera mengirimkan bantuan pangan berupa ubi jalar, 100 ton beras, 1.100 kardus mis instan, ikan asin, kecap dan alat masak ke distrik rawan pangan di Yahukimo.(*)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009