Klaster pasar bermunculan, LIPI: Perilaku yang sangat kompleks

Klaster pasar bermunculan, LIPI: Perilaku yang sangat kompleks

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto meninjau pelaksanaan rapid test di Pasar Bogor, yang merupakan tindakan pelacakan penyebaran Covid-19 di Kota Bogor. ANTARA/HO-Pemkot Bogor

mengubah orang untuk ikuti protokol kesehatan itu mengubah mindset
Jakarta (ANTARA) - Terkait bermunculannya klaster pasar akhir-akhir ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut perilaku pasar sangat kompleks sehingga menjadi persoalan tersendiri saat ingin membangun komunikasi protokol kesehatan pencegahan COVID-19 yang efektif.

"Perilaku pasar tidak hanya kita melihat masalah sosial yang ada di pasar itu saja, tapi juga masalah yang ada di komunitasnya masing-masing," kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI Tri Nuke Pudjiastuti dalam diskusi virtual bersama media di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, pasar sudah menjadi bagian sangat kompleks, karena setiap individu yang ada di sana membawa perilaku dari lingkungan masing-masing. Karenanya komunikasi dengan yang ada di pasar itu jadi persoalan sendiri.

Bagaimana perilaku dapat diubah, ia mengatakan melalui komunikasi yang diintervensi di komunitasnya sampai ke tingkat rukun tetangga atau rukun warga agar tata kelola manajemen protokol kesehatan dijalankan.

Baca juga: Ikatan Pengusaha Muslimah: Pendekatan sosial tekan COVID-19 di pasar
Baca juga: Pasar ikan di Semarang jadi klaster baru penyebaran COVID-19


LIPI, menurut dia, berada dalam konsorsium dengan berbagai universitas melakukan penelitian sosial termasuk bersama Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang mencoba memberikan pemahaman tapi melalui pola perilaku masyarakat.

"Teman-teman UI itu mencoba buat pamflet yang mengingatkan, karena mengubah orang untuk ikuti protokol kesehatan itu mengubah mindset. Itu yang diadopsi Gugus Tugas (Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19). Sehingga di beberapa pasar itu ada poster itu, karena itu bagian dari kajian teman-teman. Sekarang belum selesai tapi itu bagian yang dilakukan," ujar dia.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, sejak awal Mei 2020 LIPI sudah membuat rekomendasi apa saja yang harus dilakukan dari sisi teknis dan sosialnya untuk penanganan COVID-19. Dari sisi teknik, rekomendasi yang diberikan yakni screening masif dan sistematis di mulai dari kerumunan.

"Kalau kerumunan pasar memang belum, waktu itu sekolah dan kampus. Kita lakukan screening ke anak-anak tentu otomatis keluarga itu akan kena juga. Kalau pasar kan kita tidak tahu karena yang datang bisa dari mana saja, sehingga sangat sulit," ujar dia.

Baca juga: Pasien terkonfirmasi positif COVID-19 Kota Jambi kluster pasar
Baca juga: Pedagang pasar tradisional positif COVID-19 meninggal dunia


Sebelumnya Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat 13 pedagang positif terinfeksi SARS-CoV-2 di Pasar Enjo, Jakarta Timur, sehingga pasar tersebut ditutup mulai 26 Juni. Berdasarkan laporan petugas kesehatan Kecamatan Pulo Gadung terdapat 13 orang dinyatakan positif, yang terdiri dari 10 orang pedagang, dua orang pedagang kaki lima, dan satu orang pedagang Ampera.

Sebanyak tiga pasar tradisional di Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur, ditutup selama tiga hari pada 25-27 Juni 2020 menyusul temuan puluhan pedagang positif COVID-19 dari hasil tes. Dan Pasar Cileungsi menjadi klaster penularan terbanyak virus corona atau COVID-19 di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, setidaknya ada 40 orang yang terkonfirmasi positif, dua di antaranya meninggal dunia dan sisanya masih menjalani perawatan.

Baca juga: Puluhan pedagang positif COVID-19, tiga pasar di Pulo Gadung ditutup
Baca juga: Pasar Palmerah ditutup tiga hari setelah hasil tes 9 positif COVID-19

 

Pewarta: Virna P Setyorini
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pakar biologi molekuker: Indonesia perlu membuat vaksin sendiri

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar