Laporan dari London

Diaspora Indonesia punya peluang ekspor makanan ke Kanada

Diaspora Indonesia punya peluang ekspor makanan ke Kanada

Sosialisasi "Diaspora Bond" secara virtual oleh KBRI Paris dan Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan pada Kamis (28/5/2020). ANTARA/HO-KBRI Paris

Dengan lebih dari 37,7 juta populasi Kanada, 81 persen merupakan "urban population" dan terkonsentrasi di atas 40 persen berada di Provinsi Ontario
London (ANTARA) - Potensi ekspor produk-produk makanan Indonesia ke Kanada masih sangat besar dan diaspora dapat mengisi peluang tersebut.

Hal itu mengemuka dalam dialog Konsul Jenderal RI Toronto, Leonard F. Hutabarat, dengan Diaspora Indonesia dalam rangka lebih meningkatkan ekspor produk makanan Indonesia di Wilayah Kerja KJRI Toronto. Turut hadir dalam kegiatan itu, Joe Oey dari Oey Trading.

Acara bincang-bincang dengan Konsul Jenderal RI ini, bertepatan dengan hari UMKM Internasional yang ditetapkan PBB pada 27 Juli, demikian konsul Ekonomi KJRI Toronto Dina Martina kepada Antara London, Senin.

Leonard F. Hutabarat mengatakan KJRI terus berupaya mengenalkan potensi ekspor produk makanan Indonesia ke pasar yang memiliki jumlah penduduk sangat signifikan untuk produk "consumer goods".

Dikatakannya, Toronto merupakan ibukota Provinsi Ontario di Kanada, bersama Provinsi Manitoba, Saskatchewan dan Nunavut, juga merupakan provinsi utama tujuan ekspor dari 54 persen produk Indonesia pada  2019 dan 53 persen impor Indonesia dari Kanada.

"Dengan lebih dari 37,7 juta populasi Kanada, 81 persen merupakan "urban population" dan terkonsentrasi di atas 40 persen berada di Provinsi Ontario," katanya.

Sementara itu, Joe Oey, dengan Oey Trading, menjalankan usaha sebagai importir produk makanan Indonesia di Toronto, Kanada, selama 32 tahun.

Berdasarkan pengalamannya Joe menekankan perlunya eksportir makanan Indonesia, khususnya UMKM memperhatikan regulasi mengenai "food safety" atau keamanan makanan di Kanada sebelum melakukan ekspor.

Meski dalam 10 tahun terakhir peraturan mengenai keamanan makanan di Kanada semakin ketat, namun masih sangat mungkin untuk dipenuhi oleh produsen makanan di Indonesia, ujarnya.

Misalnya, produsen harus menyebutkan jika produknya mengandung "dairy products" atau tidak dan apakah proses produksinya bercampur atau tidak dengan produksi makanan lain yang mengandung  peanut", mengingat banyak masyarakat Kanada yang alergi dengan "peanut".

Selain itu, eksportir juga sudah harus mengantongi lisensi dan "traceability" sesuai regulasi untuk memberi jaminan produk makanan tersebut aman untuk dikonsumsi.

"Packaging produk juga perlu dibuat dalam dua Bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Prancis," katanya.

Masyarakat Kanada tergolong "adventurous dalam hal makanan. Mereka tidak segan-segan mencoba makanan dari berbagai latar budaya, sepanjang memperhatikan aspek-aspek yang menjadi perhatian utama mereka, seperti kandungan, fakta nutrisi, sampai aspek lingkungan.

Sementara Konjen mengatakan saat ini ada pergeseran konsumsi masyarakat Kanada dari banyak mengkonsumsi daging merah ke arah konsumen makanan laut atau "seafood" dan produk organik yang lebih sehat.

Di sisi lain, produk makanan di Ontario, khususnya di Toronto juga sangat beragam, salah satunya karena banyaknya pendatang.

Sensus 2016 menyebutkan, tidak kurang dari 35 persen warga Toronto adalah pendatang dari berbagai negara, seperti India, RRC, Italia, dan Filipina. Hal ini membuat produk makanan asing lebih mudah diterima, ujarnya.

Dikatakannya situasi normal baru mempunyai karakteristik tertentu mengharuskan pasokan terus berjalan, khususnya untuk makanan sehingga perlu protokol baru bagi industri.

Marketing digital atau e-commerce merupakan salah satu cara yang paling aman untuk berbisnis di saat pandemi COVID-19. Hal lainnya yang perlu diperhatikan pelaku bisnis adalah perlunya produk contoh dan kapasitas produksi.

Pada 2018, defisit perdagangan Indonesia dengan Wilayah Kerja KJRI Toronto sekitar 102 juta dolar AS, turun menjadi sekitar 16 juta dolar AS pada 2019.

Di saat pandemi COVID-19 dengan dukungan pelaku usaha khususnya diaspora Indonesia seperti Oey Trading diharapkan defisit perdagangan Indonesia dengan Wilayah Kerja semakin berkurang.

UMKM tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian di banyak negara berkembang, namun juga 90 persen perusahaan di dunia didukung oleh UMKM, termasuk 70 persen tenaga kerja berada di sektor UMKM dan kontribusi UMKM sebesar 50 persen PDB dunia.

Baca juga: Produk organik peluang ekspor ke Amerika Serikat

Baca juga: Korea Selatan buka peluang ekspor makanan olahan Indonesia

Baca juga: Kerek ekspor IKM pangan, Kemenperin buka peluang tembus pasar global

Baca juga: Kemenlu ajak pengusaha manfaatkan pasar ekspor Amerika dan Eropa


 

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Dwiki Dharmawan gelar pertunjukan virtual untuk diaspora terdampak COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar