Jakarta  (ANTARA News) - Barangkali Fahmi Idris tidak menyangka, bila pada akhir masa tugasnya sebagai Menteri Perindustrian, ia diuji kesabarannya oleh orang terdekat yang menjadi mitra kerjanya selama ini.

Kalau saja Fahmi masih terus memimpin Departemen Perindustrian, pasti Sekjen Agus Tjahajana tidak akan berani memberi kado kenang-kenangan yang bisa memicu kemarahan mantan eksponen 66 itu.

Fahmi "dipaksa" membuka bingkisan berbentuk empat persegi panjang berbalut kertas warna coklat berkali-kali untuk mengetahui isi sebenarnya. "Saking" banyaknya lapisan pembungkus kado tersebut, sang istri -- Kartini -- berusaha membantu.

Sementara itu para undangan yang sebagian besar merupakan pegawai Depperin berteriak, "Sabar.. Sabar Pak!" Mereka paham betul sang Menteri sangat mudah tersulut kemarahannya.

Namun pada malam itu, Fahmi dengan sabar membuka lapisan pembungkus, sehingga akhirnya mengetahui kacamata hitam terkuak di balik kotak.

Sebuah layar besar pun menyajikan tayangan foto masa lalu mulai dari pernikahan sampai aktivitasnya ketika masih muda dan kurus, mantan eksponen 66 sangat suka sekali berpose dengan kacamata hitam.

"Ganteng kan, setuju..," begitu tulisan di dalam tayangan tersebut yang diiringi jawaban setuju dari hadirin yang datang dan senyuman sang menteri yang lengser seiring pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono, Selasa (20/10).

Pada acara perpisahan dan penghormatan kepada mantan eksponen 66 yang selama ini memimpin Departemen Perindustrian (Depperin) itu, di Jakarta, Senin malam, Sekjen Agus Tjahajana memberikan sebuah kenang-kenangan yang menguji kesabaran menteri yang terkenal pemarah itu.

Agus menyerahkan bingkisan berbentuk persegi panjang berbalut kertas warna coklat yang harus dibuka Fahmi berkali-kali untuk mengetahui apa sebenarnya isi kado tersebut. (*)

Oleh
Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2009