Gubernur DIY : Atasi pandemi COVID-19 seraya simultan pulihkan ekonomi

Gubernur DIY : Atasi pandemi COVID-19 seraya simultan pulihkan ekonomi

Gubernur DIY Sri Sultan HB X saat sambutan secara virtual kepada Bupati dan Wakil Bupati Bantul beserta jajaran dalam Peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Bantul, Senin. (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Dengan cara mengatasi pandemi seraya simultan memulihkan ekonomi. Bukankah jika sakit, orang tidak bisa lagi produktif. Dan sebaliknya jika tak bisa makan ia pun kembali akan jatuh sakit, bukan. Dilema memang.
Bantul (ANTARA) - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan bahwa pemerintah daerah harus terus berupaya mengatasi pandemi COVID-19 seraya melakukan pemulihan ekonomi di masyarakat agar perekonomian daerah tetap tumbuh.

"Saat ini memang kita dihadapkan pada pilihan sulit, mana yang perlu didahulukan, bahkan ada yang mendikotomikan Protokol Kesehatan dengan Protokol Ekonomi," kata Sultan saat memberikan sambutan secara virtual kepada Bupati dan Wakil Bupati Bantul beserta jajaran dalam Peringatan Hari Jadi ke-189 Kabupaten Bantul, Senin.

Menurut Gubernur, sebenarnya pilihannya adalah "trade off health care on economic welfare" yang mana keduanya tidak saling menafikan, akan tetapi saling melengkapi.

"Dengan cara mengatasi pandemi seraya simultan memulihkan ekonomi. Bukankah jika sakit, orang tidak bisa lagi produktif. Dan sebaliknya jika tak bisa makan ia pun kembali akan jatuh sakit, bukan. Dilema memang," kata Sultan.

Baca juga: Pembentukan tim penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi via Perpres

Gubernur mengatakan dalam kaitan tersebut tidak sedang berpendapat melawan arus, meski menyarankan untuk hidup harmoni bersama pandemi, karena wabah COVID-19 ini akan berlangsung lama dan tidak bisa diprediksi kapan berakhir.
.
"Mau tidak mau kita harus hidup layaknya "sleeping with enemy" atau "swimming among sharks". Jika kita lengah akan dibunuh musuh, atau sewaktu waktu kita bisa saja diterkam hiu," kata Sultan.

Sultan mengatakan pilihannya adalah hidup berdampingan dengan COVID-19 sambil mematuhi disiplin yang menjadi syaratnya, sebab hidup mengisolasi diri terus-menerus akan berdampak buruk bagi ekonomi, namun dengan sedikit melonggarkan aturan, membuka peluang ekonomi agar bergerak lagi.

"Karena perlakuan adaptasi terhadap keadaan baru yang dulu diistilahkan Normal Baru yang dirancukan maknanya, maka keduanya harus dikompromikan. Tentu dengan kapasitas belum penuh. Tapi setidaknya ekonomi bisa berjalan lagi secara bertahap," katanya.

Baca juga: BNPB: Tim Pemulihan Ekonomi-Penanganan Covid optimalkan penanganan

Oleh karena itu, Sultan mengajak masyarakat tetap bisa beraktivitas ekonomi bersamaan menerapkan protokol kesehatan secara ketat agar penyebaran wabah bisa terkendalikan.

Sultan meyakini jika pemerintah dan masyarakat berhasil memberlakukan era baru di tengah pandemi tanpa memicu lonjakan gelombang kedua kasus COVID-19, akan bisa keluar dari ancaman pertumbuhan ekonomi negatif tahun 2020.

"Itulah pilihan dilematis yang harus dilakukan, yaitu mengamankan warga dari bahaya pandemi COVID-19 dengan mematuhi protokol kesehatan yang paling elementer, pakai masker dan cuci tangan yang benar, jaga jarak aman dan hindari kerumunan," kata Sultan.

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pemerintah rencanakan digitalisasi aksara Jawa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar