Introvert atau ekstrovert? Kenali pribadi anak agar komunikasi efektif

Introvert atau ekstrovert? Kenali pribadi anak agar komunikasi efektif

Ilustrasi (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Komunikasi efektif adalah salah satu kunci utama agar orangtua bisa membantu proses pembelajaran jarak jauh buah hati selama masa adaptasi kebiasaan baru.

"Orangtua harus mengetahui, mengenal dan memahami karakter dan kepribadian anak agar bisa menyesuaikan diri dan menciptakan kerjasama menyenangkan," kata psikolog Ajeng Raviando di bincang-bincang “Jaga Kesehatan, Belajar di Rumah, Bebas Stres" Frisian Flag, Rabu.

Pada dasarnya ada empat tipe kepribadian, yakni koleris, sanguinis, melankolis dan plegmatis. Setiap karakter manusia bisa terdiri dari perpaduan tipe-tipe ini, meski biasanya ada yang lebih dominan.

Menurut Ajeng, karakter yang terlihat pada anak sejak kecil bisa terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Anak-anak yang introvert biasanya punya kepribadian melankolis dan plegmatis, sementara anak ekstrovert punya kepribadian sanguinis dan koleris.

Baca juga: Pribadi ekstrovert lebih bahagia, terlepas dari kebudayaan

Baca juga: Ini teknik khusus agar si introvert mau terbuka


Koleris
Sisi positif anak dengan kepribadian koleris adalah independen, punya kemauan keras, tegas, berjiwa pemimpin dan tegas serta tak suka bertele-tele. Jika buah hati Anda punya pendirian teguh dan tak sungkan mengutarakan keinginannya, bisa jadi dia berkepribadian koleris. Sisi negatifnya, anak koleris cenderung lekas marah dan sulit memaafkan.

Orangtua yang ingin memberikan masukan kepada anak koleris sebaiknya menyampaikan poinnya secara langsung, jangan berbelit-belit. Ajari anak untuk berkomunikasi dengan menghargai lawan bicara, lebih fleksibel dan berempati.

Sanguinis
Anak-anak yang menyenangkan, penuh antusias, ramah serta banyak bicara bisa dikategorikan sebagai mereka yang punya kepribadian sanguinis. Kekurangannya, suasana hatinya dapat berubah-ubah dan cenderung tidak disiplin, tidak produktif, egosentris serta membesar-besarkan masalah.

Ajari anak untuk berpikir sebelum bicara, juga membuat poin-poin pembicaraan agar lebih terstruktur.

Baca juga: Pilih-pilih parfum sesuai kepribadian

Baca juga: Tips untuk orangtua yang kehabisan ide permainan bersama anak di rumah

Baca juga: Tips lepaskan stres ibu dan anak saat corona
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Keluarga, terapis terbaik anak berkebutuhan khusus

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar