Bandung, (ANTARA News) - Kapolwiltabes Bandung, Kombes Pol Imam Budi Supeno memerintahkan anggotanya untuk menembak di tempat para kelompok organisasi yang terlibat bentrokan.

"Saya tidak segan-segan untuk memerintahkan anggota agar menembak di tempat kelompok yang terlibat bentrokan," ujar Kapolwiltabes di Mapolwiltabes Bandung, Selasa dini hari.

Menurut Kapolwiltabes, tembak di tempat tersebut bukan berarti menembak mati. Namun, kata Imam, hanya untuk melumpuhkan orang yang terlibat bentrokan.

Di depan 48 pelaku bentrokan tersebut, Kapolwil memaparkan, tindakan kedua kelompok Organisasi massa Pemuda Pancasila dan Bandung Fighting Club (BFC) merupakan prilaku premanisme.

"Di tahun 2009 tidak ada prilaku premanisme. Segala masalah dapat diselesaikan tanpa kekerasan. Masyarakat kali ini sudah pintar dan dapat menilai tindakan yang wajar dan tidak wajar," ungkapnya.

Kapolwil menambahkan, Kota Bandung merupakan kota wisata, kota yang dipenuhi oleh orang untuk berlibur.

"Kejadian ini berarti telah mengotori kota Bandung sebagai kota wisata," katanya.

Seharusnya, kata Kapolwil, organisasi atau kelompok masyarakat dapat menjadi mitra polisi. Bukan membuat bentrokan.

"Dalam kasus ini Polisi tidak akan memihak. Polisi akan bertindak sesuai dengan prosedur hukum," papar Kapolwiltabes.

Sebelumnya, tempat hiburan malam di jalan Braga kota Bandung, Jawa Barat, "Caesar Palace", diserang puluhan orang dari organisasi Pemuda Pancasila, Senin malam.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 23.00, kektika puluhan massa tersebut mengepung tempat hiburan malam itu dari dua arah.

Mereka datang menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Mereka juga membawa senjata tajam seperti samurai, clurit, pisau dan golok.

Bentrokan antara kelompok Pemuda Pancasila dan Bandung Fighting Club ini berlangsung sekira setengah jam.

Akibat peristiwa ini, 48 orang diamankan di Mapolwiltabes Bandung. Puluhan kendaraan beserta barang bukti senjata tajam turut diamankan.

Bentrokan tersebut menimbulkan tiga orang luka dari Pemuda Pancasila yang dilarikan ke rumah sakit di Bandung.(*)

Pewarta:
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2009