Denpasar (ANTARA News) - Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono menegaskan, sebagai pekerjaan profesional, wartawan memiliki risiko tinggi yang tidak kalah dengan seorang tentara saat memasuki medan perang.

"Namun hampir tidak ada risiko berat ketika wartawan menjalankan fungsi edukasi, informasi dan entertainmen," kata Margiono ketika berbicara pada sarasehan "Mengenang Prabangsa: Perspektif Pers di masa depan" di Denpasar, Sabtu.

Anak Agung Gede Bagus Narendra Prabangsa (43) adalah wartawan Radar Bali (Jawa Pos Group) yang tewas dibunuh karena pemberitaan kasus korupsi 11 Pebruari 2009 dan mayatnya ditemukan terapung di Selat Lombok, 16 Pebruari 2009.

Margiono mengatakan, persoalan sering muncul ketika wartawan menulis dan menyiarkan berita kritik atau kontrol sosial, apalagi yang dikiritik orang atau lembaga yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan.

Kondisi sosial dan kritik senantiasa bersinggungan dengan nama baik atau perbuatan yang tidak menyenangkan.

Usai melantik pengurus PWI Bali periode 2009-2014 yang diketuai Bagus Ngurah Rai, Margiono menjelaskan, kritik sosial pers adalah amanat UU, namun sering kali memukul balik wartawan karena dituduh mencemarkan nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan.

Bahkan, katanya, wartawan mengalami risiko seperti dialami Udin di Yogyakarta dan Prabangsa di Denpasar, Bali.

Untuk itu masyarakat pers kini terus mengusahakan agar tidak terjadi kriminalisasi terhadap karya jurnalistik serta jaminan perlindungan hukum dan keamanan terhadap wartawan.

"Kalangan pers telah menyadari menjalankan pekerjaan dengan penuh risiko merupakan pilihan. Untuk itu pers perlu memiliki kesadaran, bahwa tulisan yang tajam terpercaya mengundang potensi ancaman yang sama tingginya dengan tulisan yang tajam dan akurat," tutur Margiono.

Oleh sebab itu wartawan profesional akan menulis berdasarkan data yang akurat dan terpercaya untuk mendukung berita kritis dan kontrol sosial.

Namun wartawan dengan kompetensi rendah akan melepaskan tulisan kritis, bahkan menyodok orang hanya dengan data yang tidak akurat.

Dari akurasi itulah kompetensi wartawan dapat diukur maupun kemampuan dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar, ujar Margiono.(*)

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010