KLHK harapkan mitigasi kekeringan masuk perencanaan pembangunan daerah

KLHK harapkan mitigasi kekeringan masuk perencanaan pembangunan daerah

Warga mengambil air dari dasar Sungai Cipamingkis yang mengering di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (30/8/2020). Sebagian besar warga di wilayah tersebut memanfaatkan air dari dasar dan sisa aliran sungai Cipamingkis yang mengering di musim kemarau untuk kebutuhan mencuci dan mandi. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/aww.

Kementerian LHK menggelar sosialisasi Kebijakan Water Balance dan Pelatihan Jarak Jauh Analisis Spatio-temporal Neraca Air Untuk mitigasi Bencana dengan E-Learning para pemangku kebijakan baik di pusat maupun daerah.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengharapkan mitigasi bencana terutama bencana kekeringan dan kelangkaan air dapat diinternalisasi dan diimplementasikan dalam perencanaan pembangunan di daerah.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) KLHK Helmi Basalamah di Jakarta, Jumat mengatakan wilayah Indonesia mulai mengalami kekeringan sejak 10 tahun terakhir.

Kondisi tersebut, menurut dia, sebetulnya tidak perlu terjadi, mengingat curah hujan di hampir seluruh wilayah kita termasuk kategori tinggi, bahkan beberapa wilayah termasuk daerah semi arid, seperti sebagian Bali timur, NTT, NTB, dan lembah Palu.

"Hal ini semakin menurunkan peluang akses ke air bersih, disamping kemampuan dalam menafsirkan berbagai fenomena serta mensintesakannya menjadi sebuah informasi holistic yang menjadi dasar dalam mengambil tindakan/keputusan," ujarnya melalui keterangan tertulis.
Baca juga: Pakar Unsoed: Mitigasi kekeringan perlu jadi prioritas

Terkait hal itu Kementerian LHK menggelar sosialisasi Kebijakan Water Balance dan Pelatihan Jarak Jauh Analisis Spatio-temporal Neraca Air Untuk mitigasi Bencana dengan E-Learning para pemangku kebijakan baik di pusat maupun daerah.

Melalui pelatihan tersebut diharapkan peserta mampu menganalisis hujan dan proses hidrologi, menganalisis ketersediaan air permukaan dan air tanah, menjelaskan Land form/Bentuk lahan dan Potensi Sumber Daya Air, menganalisis kebutuhan air, menganalisa neraca air dan melakukan paparan hasil identifikasi neraca air.

"Dari kegiatan ini diharapkan mereka dapat memahami kebijakan terkait dengan mitigasi bencana terutama bencana kekeringan dan kelangkaan air, yang dapat diinternalisasi dan diimplementasikan dalam perencanaan pembangunan di daerah," kata Helmi Basalamah.

Pelatihan Analisis Spatio-Temporal Neraca Air untuk Mitigasi Bencana dilaksanakan selama 4 hari (4-8 september 2020) diikuti antara lain analis data, analis tata ruang, analis perencanaan strategis dan tenaga fungsional (PEH) yang berkecimpung di bidang hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dari 34 Provinsi.
Baca juga: Akademisi: Mitigasi bencana kekeringan perlu dioptimalkan

Sebelumnya dalam pembukaan pelatihan tersebut pada Kamis (3/9) Menteri LHK Siti Nurbaya menyatakan, melalui sosialisasi dan pelatihan E-learning diharapkan dapat memberi pemahaman dalam menemukenali kondisi bentang alam dan potensi yang terjadi, serta proses analisis berbasis spasial dilakukan.

Harapannya, lanjutnya, diperoleh referensi yang handal (reliable) untuk bertindak dan menentukan strategi penanganan.

“Penyelenggaraan e-learning ini juga menggambarkan metode adaptif dalam diseminasi kebijakan environmental governance menghadapi situasi covid-19 yang saat ini melanda berbagai wilayah negara kita," Siti Nurbaya.
Baca juga: Pakar: Perlu mitigasi perubahan iklim untuk antisipasi kekeringan
Baca juga: Akademisi: Mitigasi kekeringan perlu disiapkan jelang puncak kemarau

Pewarta: Subagyo
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wamen LHK: realisasi Padat Karya Penanaman Mangrove sudah 65%

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar