Semarang (ANTARA News) - RSUP dr. Kariadi Semarang melibatkan sebanyak 41 ahli berbagai bidang dalam tim yang menangani Bilqis Anindya Passa, balita berusia 17 bulan yang menderita "atresia bilier" (saluran empedu tidak terbentuk atau berkembang sempurna).

"Mereka adalah para ahli di bidangnya masing-masing, antara lain laboratorium, mikroskopik, hematologi, anastesi, dan psikologi," kata ahli darah, Prof. dr. AG. Soemantri, salah satu anggota tim itu di Semarang, Rabu.

Menurut dia, Bilqis akan menjalani proses pemeriksaan kesehatan secara bertahap sebelum dilakukan operasi transplantasi (pencangkokan) hati, sebab sebelum dilakukan operasi harus dipastikan seluruh kondisinya memungkinkan.

Proses pemeriksaan kesehatan yang akan dilalui, kata dia, di antaranya pemeriksaan berat badan, "magnetic resonance imaging" (MRI), dan kajian sejauh mana fungsi organ-organ lain jika menerima hati donor tersebut.

"Dia (Bilqis, red.) juga harus dipastikan telah terbebas dari berbagai virus, seperti hepatitis A, B, C, Epstein-Barr virus (EBV), torch, dan sebagainya. Kalau memang ada ya harus disembuhkan terlebih dahulu," katanya.

Ditanya tentang waktu operasi Bilqis, ia mengaku belum dapat memastikan, sebab proses pemeriksaan setiap orang berbeda karena bersifat individu, ada yang 1-2 minggu tergantung kondisi setiap orang.

Ia mengatakan, pelaksanaan proses operasi juga tergantung dari pemeriksaan terhadap pendonor hati, apabila telah menemukan pendonor hati yang sesuai, maka proses operasi dapat segera dilakukan.

"Donor hati akan diperiksa secara detail, di antaranya volume atau arah jaringan yang dimiliki, apakah sesuai dengan Bilqis, sebab orang tua kandung Bilqis pun belum tentu dapat menjadi donor hati yang sesuai," katanya.

Namun, kata dia, pihaknya sangat berharap proses pemeriksaan kesehatan itu segera selesai, agar proses operasi transplantasi hati bagi Bilqis dapat segera dilakukan, karena termasuk operasi dengan teknik tinggi.

Ia mengatakan, pihaknya merencanakan proses operasi transplantasi hati akan berlangsung selama 12-14 jam dengan menggunakan dua ruang operasi, baik untuk Bilqis dan pendonor, semuanya dilakukan serentak.

"Kami juga akan dibantu oleh tim dari National University Hospital (NUH), Singapura untuk melakukannya, mengingat mereka telah berpengalaman dalam menangani sekitar 200 kasus semacam itu," katanya.

Sementara itu, kakek Bilqis, Bahruddin Syatha (64) mengatakan, kondisi Bilqis tersebut baru diketahui setelah berumur tiga hari, sedangkan lahirnya sebenarnya normal, namun setelah itu tubuhnya terlihat berwarna kuning.

Saat berusia 50 hari, kata dia, Bilqis pernah menjalani operasi kasai (operasi bedah perut untuk menyambung hati ke usus halus) di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading Jakarta, namun ternyata harus dilanjutkan dengan transplantasi hati.

"Kami sangat berharap operasi transplantasi hati berjalan sukses dan kami berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk pemerintah dan seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam Koin Cinta untuk Bilqis," katanya.

Bilqis tiba di RSUP dr. Kariasi Semarang, Rabu (3/2) sekitar pukul 01.15 WIB beserta orang tua dan keluarganya, dan ditempatkan di Ruang Merak 9 RSUP dr. Kariadi untuk mendapatkan penanganan intensif.(PK-ZLS/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010