Magelang (ANTARA News) - "Doa Bersama Untuk Bunga Putra Bangsa" yang diselenggarakan Paguyuban Alumni Van Lith (Pavali) Muntilan, Sabtu hingga menjelang tengah malam, untuk mengenang dan meneladan sejumlah tokoh pluralisme Indonesia.

"Kenyataan sehari-hari Indonesia adalah plural, beragam, meskipun sering menghadapi tantangan antara lain isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan)," kata Anggota Dewan Pertimbangan Pavali Nasional, Tri Danto, di sela acara itu, di aula SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di Magelang, Sabtu.

Event itu antara lain ditandai dengan testimoni beberapa orang terhadap KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Romo YB Mangun Wijaya Pr, Ni Wayan Gedong (Ibu Gedong), dan Fransiskus Xaverius Seda (Frans Seda) sebagai sejumlah tokoh bangsa yang semasa hidupnya membangun semangat pluralisme Indonesia.

Sejumlah perwakilan umat beragama dan kepercayaan secara bergantian memimpin doa untuk arwah keempat tokoh itu.

Mereka masing-masing Suwalji (Kejawen Mataram Yogyakarta), Bruder Albertus Suwarto FIC (Pimpinan SMA Van Lith Muntilan), Mulyani Suseno (Yayasan Tri Bhakti, Kelenteng Liong Hook Bio Kota Magelang), dan Ngatiar (Pondok Pesantren Gunung Pring, Kabupaten Magelang).

Ia mengatakan, perjuangan pluralisme yang telah empat tokoh itu laksanakan patut diteruskan oleh generasi muda bangsa.

Para tokoh itu, katanya, telah membongkar kungkungan fanatisme dan eksklusifisme beragama.

Hidup mereka, katanya, adalah teladan nyata atas semangat beragama yang saling menghormati dan menghargai.

"Pandangan mereka adalah pengawal dan pelindung sejati pluralisme," katanya.

Suwarto mengatakan, mereka sebagai tokoh yang perjalanan hidup berbangsa dan bernegaranya patut menjadi teladan generasi muda.

"Mereka mempunyai ciri khas, menghayati hidup berbangsa dan bernegara dengan spiritualitas dan prinsip hidupnya yang semuanya bermakna," katanya.

Masa depan bangsa, katanya, berada di tangan generasi muda. Generasi muda kelak menjadi agen perubahan bangsa agar lebih manusiawi dan nyaman untuk tempat tinggal.

Ia mengatakan, generasi muda harus terus berjuang, menggali potensi diri, dan menemukan jati diri, termasuk belajar tentang berbagai nilai pluralisme yang pernah ditempuh para tokoh itu.

Kegiatan bertajuk "Doa Bersama Untuk Bunga Putra Bangsa" itu, katanya, hendaknya dimaknai sebagai "neges" atau bertanya kepada hati nurani tentang berbagai hal menyangkut jalan hidup generasi muda.

Pada kesempatan itu sejumlah seniman membacakan puisi, eksplorasi pantomim, performa seni, dan pentas musik etnik.

Sejumlah kalangan tampak hadir dalam acara itu antara lain pemuka lintasagama dan kepercayaan di daerah itu, perwakilan komunitas keturunan Tionghoa, pondok pesantren, muda-mudi Katolik, pelajar, mahasiswa, seminaris, organisasi kepemudaan Islam setempat, seniman, dan pemerhati budaya.
(U.M029/R009)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010