counter

Buku "sejuta Doa Untuk Gus Dur" Diluncurkan

Buku "sejuta Doa Untuk Gus Dur" Diluncurkan

KH Abdurrahman Wahid (ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Seniman dan penuils, Demien Demitra, meluncurkan buku karyanya berjudul "Sejuta Doa untuk Gus Dur" guna mengenang 40 hari wafatnya tokoh pluralis yang juga mantan Presiden Republik Indonesia itu.

Peluncuran dan diskusi buku dalam rangka mengenang 40 hari wafatnya KH Abdurrahman "Gus Dur" Wahid itu berlangsung di Pura Adhitya Jaya, Rawamangun, Jakarta, Senin.

Acara itu dihadiri para tokoh lintas agama yang terdiri dari agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Selain itu, juga hadir sejumlah sahabat Gus Dur seperti Bondan Gunawan dan Remi Silado.

Buku "Sejuta Doa untuk Gus Dur", ujar Demien, merupakan buku kedua karya Demien tentang Gus Dur, yang merupakan rangkaian dari buku "Sejuta Hati untuk Gus Dur", yang telah diluncurkan pada 8 Januari 2010.

Menurut Demien, buku kedua yang sengaja ditulisnya untuk memperingati 40 hari wafatnya Gus Dur, berbeda dengan buku sebelumnya yang mengisahkan kehidupan Gus Dur dari lahir sampai sebelum wafat.

"Buku ini lebih menonjolkan latar belakang Gus Dur sebagai pluralis. Gus Dur adalah pluralis sejati. Ia tetap teguh memegang keyakinannya, tapi sangat menerima perbedaan dalam kehidupan umat manusia, baik agama, budaya, dan gender," kta seniman serba bisa, yang juga berprofesi sebagai penulis skenario, sutradara, fotografer, dan pelukis itu.

Buku "Sejuta Doa untuk Gus Dur" itu berisi novel dan kumpulan doa ini mengisahkan tentang sepak terjang Gus Dur dalam membantu sesama, atau kaum minoritas yang kurang memiliki tempat untuk memperoleh kemerdekaan dalam menjalankan kepercayaannya.

Selain itu, Demien berharap, buku karyanya itu dapat menginspirasi generasi muda untuk mencontoh sikap pluralisme yang diusung Gus Dur.

Menanggapi buku ini, sahabat Gus Dur, yang juga penulis ternama, Remi Silado, mengaku senang akan kehadiran buku tersebut.

"Tulisan tentang Gus Dur dapat membuat orang-orang berpikiran seperti Gus Dur, dari yang sempit menjadi terbuka," kata penulis yang memiliki nama pena Alif Danya Munsyi. (M-FAIA038)

Shinta Nuriyah ingatkan untuk membentengi virus kebencian

Pewarta: adit
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2010

Komentar