Kabul (ANTARA News/AFP) - Lima warga sipil Afghanistan terbunuh secara tidak sengaja dan dua orang terluka dalam serangan udara di Afghanistan selatan, dalam insiden yang tidak berkaitan dengan ofensif pimpinan AS terhadap Taliban, kata NATO, Senin.

Peristiwa mematikan itu tidak disengaja, kata Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO, dengan menambahkan bahwa orang-orang yang tewas itu dikira gerilyawan yang sedang memasang bom rakitan.

"Serangan udara ISAF terhadap tersangka gerilyawan menewaskan lima orang dan mencederai dua warga sipil di distrik Zhari, provinsi Kandahar, hari ini," kata ISAF dalam sebuah pernyataan.

"Peristiwa ini bukan bagian dari Operasi Mushtarak," tambahnya, menunjuk pada operasi besar-besaran untuk menumpas Taliban di wilayah selatan.

Sehari sebelumnya, Minggu, NATO mengakui bahwa 12 warga sipil tewas ketika sebuah roket tidak mengenai sasaran yang dituju selama ofensif besar terhadap Taliban.

"Dua roket dari Sistem Roket Artileri Mobilitas Tinggi (HIMARS) yang diluncurkan ke arah gerilyawan yang menembaki pasukan Afghanistan dan ISAF jatuh sekitar 300 meter dari sasaran yang dituju, menewaskan 12 warga sipil di distrik Nad Ali, provinsi Helmand, hari ini," kata ISAF, Minggu.

"Panglima ISAF Jendral Stanley McChrystal menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Hamid Karzai atas insiden yang malang ini," kata ISAF dalam sebuah pernyataan.

Penggunaan HIMARS dihentikan sementara dan penyelidikan dilakukan, katanya.

Marinir AS saat ini memimpin 15.000 prajurit AS, NATO dan Afghanistan dalam Operasi Mushtarak yang bertujuan menumpas militan, yang diluncurkan menjelang fajar Sabtu untuk membuka jalan agar pemerintah Afghanistan bisa mengendalikan lagi daerah penghasil opium itu.

Presiden Hamid Karzai memperingatkan, Sabtu, pasukan harus melakukan semua langkah yang diperlukan untuk melindungi warga sipil.

Saat ini terdapat lebih dari 110.000 prajurit internasional, terutama dari AS, yang ditempatkan di Afghanistan untuk membantu pemerintah Presiden Hamid Karzai mengatasi pemberontakan yang dikobarkan sisa-sisa Taliban.

Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan pemberontakan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan AS pada 2001 karena menolak menyerahkan pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah Amerika yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.

Pasukan Bantuan Keamanan Internasional (ISAF) pimpinan NATO berkekuatan lebih dari 84.000 prajurit yang berasal dari 43 negara, yang bertujuan memulihkan demokrasi, keamanan dan membangun kembali Afghanistan, namun kini masih berusaha memadamkan pemberontakan Taliban dan sekutunya.

Kekerasan di Afghanistan mencapai tingkat tertinggi dalam perang lebih dari delapan tahun dengan gerilyawan Taliban, yang memperluas pemberontakan dari wilayah selatan dan timur negara itu ke ibukota dan daerah-daerah yang sebelumnya damai.

Tahun 2009 tidak saja merupakan masa paling mematikan bagi prajurit, polisi dan warga sipil Afghanistan namun juga bagi pasukan internasional yang memerangi Taliban. Sebagian besar kekerasan terjadi di provinsi-provinsi selatan seperti Kandahar dan Uruzgan.

Presiden AS Barack Obama mengumumkan pada Desember pengiriman 30.000 prajurit tambahan ke Afghanistan untuk bergabung dengan pasukan AS dan ISAF pimpinan NATO yang berada di negara itu untuk memerangi gerilyawan. Negara-negara NATO juga mengirim 7.000 prajurit tambahan ke negara itu.

Delapan tahun setelah penggulingan Taliban dari kekuasaan di Afghanistan, lebih dari 40 negara bersiap-siap menambah jumlah prajurit di Afghanistan hingga mencapai sekitar 150.000 orang dalam kurun waktu 18 bulan, dalam upaya baru memerangi gerilyawan.

Sekitar 520 prajurit asing tewas sepanjang 2009, yang menjadikan tahun itu sebagai tahun paling mematikan bagi pasukan internasional sejak invasi pimpinan AS pada 2001 dan membuat dukungan publik Barat terhadap perang itu merosot.

Gerilyawan Taliban sangat bergantung pada penggunaan bom pinggir jalan dan serangan bunuh diri untuk melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing yang ditempatkan di negara tersebut.

Bom rakitan yang dikenal sebagai IED (peledak improvisasi) mengakibatkan 70-80 persen korban di pihak pasukan asing di Afghanistan, menurut militer. (M014/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010