Semarang (ANTARA News) - Wasit Dedi Wahyudi yang diperiksa di Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang karena diduga tidak adil dalam memimpin pertandingan PSIS Semarang melawan Mitra Kukar Tenggarong pada Jumat (19/2) sore di stadion Jatidiri Semarang akhirnya dilepas.

"Yang bersangkutan kita lepas pada Jumat (19/2) malam pukul 23.00 WIB karena tidak terbukti melakukan tindak pidana suap dalam memimpin pertandingan," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polwiltabes Semarang, AKBP Asep Jenal di Semarang, Sabtu.

Selain wasit Dedi Wahyudi dari Denpasar, asisten wasit I Fajar Riyadi (Yogyakarta), Asisten Wasit II Sutopo (Denpasar), dan Pengawas Pertandingan Chairul Adil (Jakarta) juga sempat diperiksa intensif oleh penyidik, namun akhirnya dilepas.

Ia menjelaskan, wasit Dedi Wahyudi sempat diperiksa usai pertandingan karena keputusan yang diambil saat memimpin pertandingan berpotensi menimbulkan keributan sehingga dikhawatirkan dapat terjadi gangguan kamtibmas baik di dalam lapangan maupun diluar.

"Kita berhak meminta keterangan dari wasit yang memimpin suatu pertandingan jika keputusan yang diambilnya berpotensi menimbulkan keributan," katanya.

Namun, kata dia, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan selama beberapa jam terhadap keempat pengurus pertandingan, keputusan yang diambil wasit Dedi Wahyudi wajar.

"Saat salah seorang pemain dari kesebelasan Mitra Kukar Tenggarong melakukan protes keras terhadap wasit Dedi Wahyudi, pemain tersebut juga mengucapkan kata-kata kotor sehingga layak diberi kartu merah dan dikeluarkan dari lapangan," kata Asep.

Sebelumnya, Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo, memerintahkan anggotanya untuk memeriksa wasit Dedi Wahyudi yang memimpin pertandingan PSIS Semarang melawan Mitra Kukar Tenggarong karena dinilai tidak adil.

"Sebelum mereka pulang, saya perintahkan anggota saya untuk memeriksa mereka karena ada gejala yang mencurigakan. Apabila dalam pemeriksaan ternyata ada indikasi pelanggaran pidana tentunya akan kita tindak lanjuti," kata Kapolda usai pertandingan kedua tim tersebut.

Menurut dia, kalau wasit bertindak tidak adil tentunya akan memancing emosi penonton.

Kapolda ingin sepak bola di Jawa Tengah ini maju sehingga wasit yang memimpin pertandingan dan merugikan tim tentunya baik itu tuan rumah atau tamu tentunya akan diperiksa.

Sementara itu, Ketua Central Java Police Watch (CJPW) Jawa Tengah Aris Soenarto yang dihubungi terpisah mengatakan, tindakan polisi memeriksa wasit Dedi Wahyudi merupakan tindakan yang arogan.

Tindakan tersebut, katanya, tidak baik bagi iklim persepakbolaan di Tanah Air dan dinilai berlebihan serta dapat menimbulkan trauma bagi para wasit dan pengurus pertandingan.

Menurut dia, dalam sebuah pertandingan, wasit mempunyai penilaian subjektif tersendiri dan ototritas tersebut tidak boleh diintervensi oleh pihak lain termasuk pihak kepolisian.

"Tindakan polisi tersebut sama saja mengabaikan pengawas pertandingan yang mempunyai tanggung jawab suatu pertandingan sepak bola," katanya.

Lagipula, kata dia, yang berhak menentukan ada tidaknya kecurangan dalam sebuah pertandingan bukan polisi melainkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.

Ia mengungkapkan, pihaknya mendukung langkah polisi dalam memberantas mafia pertandingan tapi tidak dengan cara seperti itu.

"Polisi seharusnya menggunakan cara-cara yang lebih elegan dan menempuh mekanisme untuk memerangi praktek mafia pertandingan sepak bola," katanya.

Ia menambahkan, sudah saatnya ada kesepakatan antara pihak kepolisian dengan Kementerian Pemuda dan Olah Raga, PSSI atau dengan pihak-pihak terkait lainnya.

"Kesepakatan itu untuk menentukan hal mana saja yang yang menjadi wewenang polisi dan hal mana yang menjadi wewenang pihak lain," kata Aris.(PK-WSN/A038)

Pewarta:
Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2010