Washington (ANTARA News) - Seorang pejabat China, Kamis, mengatakan bahwa China memang akan mereformasi kurs mata uangnya tapi itu dilakukan secara bertahap sambil mempertahankan mata uangnya stabil, atau dalam bahasa lebih terang, China menolak seruan AS agar nilai Yuan segera didorong berapresiasi terhadap dolar AS.

Wakil Menteri Keuangan China Zhong Shan yang berada di Washington menyusul perseteruan dagang yang seru antara AS-China, mengatakan perubahan nilai kurs bukanlah solusi untuk mengatasi menganganya defisit perdagangan kedua negara, sebaliknya itu bisa mengguncang perekonomian dunia.

"Merevaluasi renminbi (yuan) bukan resep bagus untuk menyelesaikan persoalan-persoalan. Tak seorang pun, baik China, AS atau siapa saja, yang ingin menyaksikan turun tajam dan naik drastinya nilai kurs dolar AS (terhadap yuan)," kata Zong kepada Kamar Dagang dan Industri AS seperti dikutip Reuters.

Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengungkapkan saat ini China tidak dalam posisi membiarkan mata uangnya untuk tidak berapresiasi.

"Kita tidak bisa memaksa nilai mata uang berubah. Tapi penting diketahui bahwa biarkan mata uang berapresiasi sendiri. Dan saya kira banyak orang memahami hal itu," katanya dalam wawancara dengan CNN.

Para pejabat Departemen Keuangan bertemu dengan Zhong Rabu tengah malam waktu AS (Kamis siang WIB).

"Mereka mendiskusikan pentingnya memperkuat pertumbuhan global, sejumlah masalah perdagangan dan kebijakan ekonomi, termasuk nilai kurs," kata Juru Bicara Departemen Keuangan AS.

Banyak ekonom AS menaksir mata uang China telah mengalami devaluasi hingga 40 persen.

Itu membuat China memperoleh keuntungan yang tidak adil dari perdagangan internasionalnya, menangguk lapangan kerja dari pasar negara lain dan menciptakan distorsi dalam sistem keuangan global.

Di tengah rontoknya lapangan kerja sampai 8,4 juta sejak 2007, para anggota DPR AS memusatkan perhatian kepada mata uang China itu.

Para senator tengah menyusun RUU yang akan memperketat bea impor untuk barang-barang China, guna mengatasi rendahnya nilai tukar negara itu.

Para sponsor RUU, diantaranya Senator Demokrat Charles Schumer dan Senator kubu Republik Lindsey Graham, juga menginginkan pemerintahan Obama untuk secara resmi mencap China sebagai manipulator kurs, pada laporan setengah tahunan Departemen Keuangan 15 April. (*)

reuters/jafar

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010