Pekanbaru (ANTARA News) - Prajurit Dua (Prada) Jefri Heriyanto Sinaga dari Pleton 1 Denarhanud Rudal 003 Kodam Jaya sempat dikeroyok oleh empat seniornya sebelum meninggal dunia.

"Almarhum Jefri sempat dipukuli sebelum meninggal. Informasi ini saya terima dari laporan khusus Resimen Arhanud yang baru diterima pihak keluarga," kata Gortap Sinaga, paman Jefri kepada ANTARA di Pekanbaru, Senin.

Menurut dia, sebelumnya pihak keluarga hanya menerima surat keterangan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bahwa kematian Jefri akibat serangan jantung.

Ia mengatakan, surat tersebut dikirim bersama jenazah Jefri saat tiba di kampung halamannya di RT 01/01 nomor 54, Balik Alam, Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Minggu (18/4).

Dalam surat tersebut, lanjut Gortap, sempat terjadi kontak fisik terhadap Jefri pada tanggal 16 April 2010 pukul 22.00-23.00 WIB. Pelakunya adalah empat orang senior korban, yakni Prada AS, Prada R, Prada Ln dan Prada WN. Mereka tidak hanya memukuli Jefri, tetapi juga satu korban lagi yakni Prada Nov.

"Para senior itu masing-masing melakukan pemukulan antara lima sampai dengan 15 kali," katanya.

Kejadian pemukulan tersebut berselang satu hari sebelum Jefri ditemukan dalam kondisi terluka parah di baraknya pada 17 April. Nyawa Jefri tidak bisa diselamatkan lagi meski sudah mendapat penanganan medis di UGD RS Mulya Insani pada hari itu sekitar pukul 17.00 WIB.

Jasad Jefri sempat dibawa ke RSCM, dan dokter setempat langsung menyatakan korban meninggal akibat serangan jantung tanpa melakukan autopsi.

Dengan adanya surat tersebut, Gortap mengatakan TNI AD sudah mengakui adanya dugaan penganiayaan. Karena itu, ia meminta pihak TNI AD untuk mengusut penyebab sebenarnya dari kematian Jefri.

"Kami meminta hati nurani dari TNI AD karena ada unsur pelanggaran pidana yang mengakibatkan kematian Jefri," ujarnya.

Pihak keluarga korban kini membawa jenazah Jefri untuk diautopsi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Keluarga berkeyakinan korban tidak meninggal karena serangan jantung karena melihat banyak bekas luka di pinggangnya yang sudah dijahit, bibirnya pecah dan ada memar di dadanya.

(T.F012/E010/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010