Duterte cabut larangan pengiriman pekerja medis ke luar negeri

Duterte cabut larangan pengiriman pekerja medis ke luar negeri

Dokter Jan Claire Dorado (30) merawat pasien COVID-19 di ruang gawat darurat Rumah Sakit East Avenue di Quezon City, Metro Manila, Filipina, Jumat (26/6/2020). Jan Claire Dorado tinggal di dalam ruang terpisah di rumahnya sendiri untuk melindungi keluarganya dari potensi terpapar virus corona baru atau COVID-19. ANTARA FOTO/REUTERS/Eloisa Lopez/wsj.

Kami memulai dengan batas hanya 5.000 orang, sehingga kami tidak akan kekurangan pekerja medis, namun angka ini mungkin bertambah secara bertahap,
Manila (ANTARA) - Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyetujui pencabutan aturan yang melarang pengiriman pekerja medis ke luar negeri, demikian diungkapkan Menteri Ketenagakerjaan Filipina pada Sabtu--yang memberikan kejelasan kepada perawat untuk dapat bekerja di negara asing.

"Presiden telah setuju untuk mencabut penangguhan sementara atas pengiriman perawat dan pekerja medis lainnya," ujar Menteri Ketenagakerjaan Silvestre Bello kepada Reuters.

Bello menyebut bahwa penyebaran virus corona di Filipina mulai melambat, dan kondisi di negara itu pun semakin membaik, sehingga pemerintah dapat mengizinkan para pekerja medis untuk pergi.

Baca juga: Filipina mulai uji klinis vaksin COVID-19 Rusia pada Oktober
Baca juga: Kemenkes Filipina: Vaksin corona dari AS bisa didapat tanpa syarat


Filipina menempati negara dengan kasus COVID-19 dan kematian terbanyak kedua di Asia Tenggara, namun angka kasus serta kematian harian sudah menurun.

Untuk menjamin Filipina mempunyai profesional medis yang akan lanjut memerangi pandemi di negerinya sendiri, pemerintah hanya memberikan izin bagi 5.000 pekerja medis yang berangkat ke luar negeri per tahunnya, kata Bello.

"Kami memulai dengan batas hanya 5.000 orang, sehingga kami tidak akan kekurangan pekerja medis, namun angka ini mungkin bertambah secara bertahap," ujar Bello.

Tahun 2019, hampir 17.000 perawat mendapat kontrak kerja di luar negeri, menurut data yang dikelola oleh Komisi untuk Pendidikan Tinggi serta Administrasi Pekerjaan Luar Negeri Filipina.

Akibat wabah COVID-19, mulai April 2020, Pemerintah Filipina melarang perawat, dokter, dan pekerja medis lainnya untuk pergi bekerja di luar negeri, dengan menyebut bahwa mereka dibutuhkan untuk menangani krisis kesehatan di dalam negeri.

Ribuan pekerja kesehatan, yang menyebut diri mereka sebagai "priso-nurses" (perawat yang layaknya tahanan), telah mengajukan permohonan kepada pemerintah agar mengizinkan kembali mereka mengambil pekerjaan di luar negeri, berdasarkan laporan Reuters pada September.

Para perawat itu menyebut bahwa mereka merasa digaji rendah, kurang dihargai, dan tidak mendapat perlindungan di Filipina.

Kemudian pencabutan larangan pergi ke luar negeri merupakan "perkembangan yang baik", kata Maristela Abenojar, Presiden Persatuan Perawat Filipina. Ia juga meminta pemerintah mewujudkan komitmen mereka untuk memberikan upah yang lebih baik serta keuntungan lainnya jika menginginkan para perawat untuk tetap di dalam negeri.

Para pekerja medis dari Filipina menjadi bagian dari garda terdepan pandemi COVID-19 di Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah, serta di dalam negeri sendiri.

Penambahan kasus harian di Filipina kini terus berada di bawah 2.000 kasus sejak 10 November, sementara angka kematian total sebanyak 8.025 kasus per 20 November--setara dengan 1,93% kasus keseluruhan sebanyak 415.067.

Keterisian tempat tidur di rumah sakit juga sudah mulai menurun dari level kritis, dan Pemerintah Filipina telah secara bertahap melonggarkan aturan karantina untuk mulai memperbaiki perekonomian.

Sumber: Reuters

Baca juga: Presiden Duterte setuju bayar di muka untuk vaksin demi jamin pasokan
Baca juga: Duterte longgarkan larangan perjalanan bagi pekerja kesehatan Filipina

Penerjemah: Suwanti
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Presiden Filipina akan bantu pembebasan WNI yang disandera Abu Sayyaf

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar