Hasil riset: Ekonomi digital Indonesia tetap tangguh saat pandemi

Hasil riset: Ekonomi digital Indonesia tetap tangguh saat pandemi

Sejumlah pengelola perusahaan rintisan digital atau startup mengoperasikan program pelayanan di sebuah kantor bersama berbasis jaringan internet (Coworking space) Ngalup.Co di Malang, Jawa Timur, Senin (12/10/2020). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj.

ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh dua digit, dipimpin oleh e-commerce dan media online
Jakarta (ANTARA) - Hasil riset yang dilakukan oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menyatakan bahwa di tengah pandemi, sektor ekonomi digital Indonesia tetap tangguh dan secara keseluruhan diperkirakan bernilai sebesar 44 miliar dolar AS pada 2020.

"Laporan tahun ini menunjukkan ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh dua digit, dipimpin oleh e-commerce dan media online," kata Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, dengan adanya pandemi, sektor tertentu seperti perjalanan dan transportasi memang terhambat tetapi hasil riset itu menunjukkan hingga 2025 keduanya diperkirakan akan bangkit dalam jangka pendek hingga menengah.

Memadukan analisis Google Trends, Temasek, dan Bain & Company serta sumber dari industri dan wawancara dengan pakar, laporan ini memerinci sektor mana saja yang menunjukkan performa terbaik dan yang paling terdampak pandemi.


Baca juga: Kemenkeu: Teknologi digital akan jadi daya ungkit ekonomi Indonesia

Baca juga: Google nilai UMKM dan ekonomi digital Indonesia potensial



Hasil riset itu juga menunjukkan bahwa E-commerce naik 54 persen menjadi 32 miliar dolar pada 2020, dari 21 miliar dolar pada 2019.

Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan 5 kali lipat jumlah supplier lokal yang mencoba berjualan daring karena pandemi.

Selain itu, ujar dia, pertumbuhan ekonomi internet yang mantap seperti ini juga terjadi di Asia Tenggara. Laporan menemukan bahwa ekonomi digital kawasan tersebut bertumbuh kian cepat akibat pandemi, mencapai 100 miliar dolar pada 2020 dan akan melampaui 300 miliar dolar pada 2025.


Baca juga: Jokowi: Potensi ekonomi digital harus dipercepat di Indonesia

Pada 2020, lebih dari sepertiga konsumen layanan digital di Asia Tenggara mulai menggunakan layanan daring baru karena COVID-19. Di Indonesia pun, 37 persen konsumen digital menggunakan layanan baru karena wabah.

Lebih dari setengah konsumen digital baru di Tanah Air (56 persen) berasal dari daerah nonmetro dan 93 persen dari mereka berkata akan terus menggunakan setidaknya satu layanan digital setelah pandemi.

Di samping itu, waktu daring rata-rata per hari selama pandemi untuk tujuan pribadi tercatat meningkat, dari 3,6 jam sebelum pandemi menjadi 4,7 jam selama PSBB dan kemudian 4,3 jam setelah PSBB.


Baca juga: Sri Mulyani: Potensi ekonomi digital RI luar biasa

 

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bank Indonesia sederhanakan 135 aturan sistem pembayaran jadi 1

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar