Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, menegaskan bahwa produk kakao dari berbagai sentra di Indonesia perlu upaya untuk meningkatkan nilai tambah agar memiliki daya saing di pasar dunia.

"Kita belum pernah mendengar ada cokelat made in Indonesia, yang ada hanya cokelat made in Swiss, Holand, atau Malaysia," kata Sjarifuddin Hasan di Jakarta, Senin, setelah acara Rapat Kerja Nasional Dekopin di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta.

Ia mengatakan, di Indonesia banyak koperasi yang menangani komoditas cokelat seperti misalnya di Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra produksi cokelat.

Menurut Menteri, koperasi-koperasi tersebut harus berani memberikan nilai tambah terhadap produk cokelat mereka.

"Mereka harus berani mengemas atau mempackaging dan memberikan merek made in Indonesia," katanya.

Jika koperasi itu mampu meyakinkan konsumennya bahwa cokelat produksinya tidak kalah dengan produk asing maka koperasi akan mendapatkan revenue yang lebih besar.

Untuk kepentingan itu, pihaknya segera memberikan edukasi kepada petani termasuk koperasi dan UKM yang bergerak di sektor komoditas cokelat.

"Kita akan memberikan pelatihan yang komprehensif agar produk kakao memiliki nilai tambah, salah satunya bekerja sama dengan Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin)," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Dekopin, Nurdin Halid, mengatakan, pihaknya mendukung sepenuhnya program pemerintah untuk meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi.

"Kita akan fokus pada upaya peningkatan daya saing menghadapi ACFTA dan AFTA untuk semua produk termasuk kakao," katanya.

(T.H016/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2010