Solo (ANTARA News) - Lagu-lagu keroncong karya almarhum Gesang Martohartono menunjukkan kesatuan antara seni dengan pribadinya, kata komponis musik kerakyatan Komunitas Lima Gunung Magelang, Sutanto Mendut.

"Karyanya menunjukkan seni yang menyatu dengan pribadi orangnya," katanya di Magelang, Kamis malam, mengomentari Gesang.

Gesang berpulang pada Kamis pukul 18.10 WIB di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo setelah menjalani perawatan sejak Minggu (16/5) karena sakit.

Jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Pracimalaya, Makam Haji Surakarta, Jumat (21/5).

Tanto mencontohkan lagu Bengawan Solo, salah satu karya Gesang yang menunjukkan melodi dan syair yang relatif sederhana tetapi memiliki makna mendalam.

Lagu Bengawan Solo, katanya, menunjukkan kepolosan sang maestro itu.

"Melodi dan syairnya sederhana tetapi penuh makna, terlihat kepolosan Gesang, tetapi itu karya yang enak dinikmati," katanya.

Ia menyebut Gesang sebagai salah satu potret seniman murni dengan lagu-lagu karyanya yang sangat pribadi.

"Bengawan Solo itu berbicara tentang perasaan-perasaan Solo, geografi Solo, sejarah Solo, lingkungannya, tentang dia sendiri yang orang Solo. Beliau melihat dirinya berhadapan dengan sejarah dan mencatat apa yang terjadi, mewakili lingkungannya, " katanya.

Kota Solo sebagai pusat kebudayaan, katanya, telah membentuk karakter Gesang sebagai maestro seni sehingga karya-karyanya menjadi terkenal dan bahkan mendunia.

Sejumlah lagu keroncong karya Gesang lainnya yang juga terkenal, katanya, seperti "Jembatan Merah" dan "Ojo Lamis".

Ia menyebut Gesang meninggal pada usia yang sepuh dalam situasi damai sebagaimana seni menyatu dengan pribadinya.

Ia menyatakan, Bangsa Indonesia telah kehilangan sang maestro yang telah meninggalkan warisan berupa karya seni budaya terutama musik keroncong.

"Gesang tidak akan hilang, tentu karyanya akan terus dikenang dan menjadi warisan bagi generasi bangsa ini, serta memberi inspirasi untuk melahirkan karya-karya besar lainnya," katanya. (*)

M029/A035

Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010