Artikel

Solskjaer yang kerepotan menjaga konsistensi

Oleh Jafar M Sidik

Solskjaer yang kerepotan menjaga konsistensi

Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer setelah pertandingan melawan Paris St Germain di Old Trafford, Manchester, Inggris (2/12/2020). ANTARA/REUTERS/Phil Noble/aa.

Jakarta (ANTARA) - Wakil kepala eksekutif Manchester United Ed Woodward menyatakan akan mendukung kebijakan transfer manajer Ole Gunnar Solksjaer dengan menyediakan dana untuk eksekusi kebijakan itu.

Woodward mengisyaratkan Solksjaer bakal terus berada di Old Trafford karena manajemen Setan Merah menganggap pelatih itu sudah menciptakan isyarat-isyarat positif di lapangan dan tempat latihan.

Namun laga Minggu dini hari nanti di Stadion Olimpiade London melawan West Ham United dan terlebih pertandingan hidup mati di Red Bull Arena melawan RB Leipzig Rabu dini hari pekan depan, bisa menjadi pertaruhan nasib Solskjaer.

Pelatih asal Norwegia ini beberapa kali dikritik para mantan pemain Liga Inggris dan juga pengamat sepak bola di sana karena dianggap tidak memiliki visi yang jelas dan kerap salah membaca pertandingan.

Baca juga: Solskjaer: ini adalah hari terburuk saya di Manchester United

Bukti terakhir yang paralel dengan tudingan itu adalah saat tetap memasang Fred pada babak kedua pertandingan Liga Champions melawan Paris Saint Germain tengah pekan ini ketika pemain ini tinggal menunggu waktu untuk dikeluarkan wasit.

Sebelum kartu merah Fred, peluang MU dalam mengimbangi dan bahkan mengalahkan PSG cukuplah besar. Mereka beberapa kali melancarkan tusukan berbahaya yang sebagian gagal akibat tumpulnya Anthony Martial yang tetap saja diturunkan Solksjaer ketika tingkat kemandulan dan ketidak-konsistennya di depan gawang sudah sangat mengkhawatirkan.

Begitu Fred dikeluarkan, PSG praktis mengendalikan penuh permainan dan kesempatan menciptakan gol pun menjadi kian sulit.

Fred, Martial dan Solksjaer adalah tiga orang yang disebut-sebut paling bertanggung jawab atas kekalahan 1-3 melawan PSG yang mempersulit United lolos ke fase gugur Liga Champions.

Baca juga: Kalahkan MU 3-1, PSG perketat perebutan tiket 16 besar

Namun kesalahan terbesar tetap ada di pundak Solskjaer. Dia sama tidak konsistennya dengan beberapa pemainnya sendiri. Kadang punya visi yang bagus, kadang tidak.

Sebagai perbandingan, dalam pertandingan melawan PSG itu, dia jelas pelatih yang lebih buruk dari Thomas Tuchel.

Pelatih PSG ini jeli membaca permainan. Dia tahu Neymar perlu dilindungi dari sisi kiri sehingga memasukkan Mitchel Bakker untuk memproteksi striker Brasil itu.

Baca juga: Tuchel tidak mau pasukannya lengah sebelum amankan tiket fase gugur

Selanjutnya kurang jeli

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Direksi TVRI patahkan alasan Dewas pecat Helmy soal tayangan asing

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar