Telaah

Jack Ma dan anomali China

Oleh Jafar M Sidik

Jack Ma dan anomali China

Pendiri dan kepala eksekutif Alibaba Group Jack Ma saat menghadiri World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China, 17 September 2018. Foto ini diambil pada tanggal yang sama Jack Ma menghadiri acara itu. (REUTERS/Aly Song (REUTERS/Aly Song)

“Inovasi tanpa mau mengambil risiko itu adalah inovasi yang mencekik,”
Jakarta (ANTARA) - Milton Friedman, mendiang ekonom peraih Nobel dan penganjur berat kapitalisme pasar bebas yang kerap disebut bapak neoliberal serta arsitek ekonomi pasar di banyak negara termasuk Indonesia pada era Soeharto, pernah menyusunkan program liberalisasi ekonomi Partai Komunis China ketika penguasa negeri ini memutuskan beralih ke pasar bebas.

Naomi Klein dalam bukunya "Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism" menyebutkan bahwa pada 1980 pemimpin China saat itu Deng Xiaoping mengundang Friedman datang untuk memberi kuliah fundamental teori pasar bebas kepada ratusan pejabat teras, profesor dan ekonom partai.

Friedman sendiri punya misi menjelaskan kepada China bahwa "betapa kehidupan rakyat biasa di negara kapitalis itu jauh lebih baik ketimbang di negara komunis."

Deng Xiaoping yang punya falsafah terkenal "tak masalah kucing itu putih atau hitam yang penting bisa menangkap tikus", terobsesi dengan ekonomi berbasis-korporat swasta itu.

Bagi negara komunis yang mengharamkan kepemilikan pribadi, ide mendorong sektor swasta agar mengambil peran besar dalam membangun perekonomian adalah aneh sekali, kalau bukan disebut paradoks.

Namun China berangsur-angsur memeluk pasar bebas sampai menjadi negara berpostur ekonomi yang hanya kalah dari Amerika Serikat.

Tak ada preseden seperti ini baik dalam dogma maupun praktik komunisme di mana pun. Lebih unik lagi, “kapitalisme model China” menghasilkan individu-individu yang menghimpun harta luar biasa banyak yang sebelumnya tak terbayangkan terjadi di sebuah negara komunis.

Ini anomali China. Sampai kemudian ada konsensus di antara pakar bahwa China sebenarnya adalah negara kapitalis. Salah satunya cirinya adalah bermunculan pribadi-pribadi kaya raya bagai kecambah di China, seperti 
yang biasa ditemui di negara-negara kapitalis liberal.
 
Hurun Rich List menyebut ada 257 miliarder baru di China sepanjang 2020 atau rata-rata lima miliarder baru dalam satu pekan. Kini ada 878 miliarder di China, lebih banyak dari yang dimiliki AS sebanyak 788 orang.

Miliarder-miliarder China itu menghimpun total kekayaan 4 triliun dolar AS (Rp56.330 triliun) atau hampir empat kali Produk Domestik Bruto Indonesia pada 2019 yang mencapai 1,119 triliun dolar AS (Rp15.758 triliun).

Majalah Forbes menyebutkan dari 100 orang paling kaya di dunia saat ini, 23 di antaranya dari China dan semakin ke bawah sampai 1.000 terkaya di dunia, jumlah miliarder China semakin banyak saja.

Di antara miliarder-miliarder China itu ada  nama Jack Ma. Pengusaha berbasis e-commerce ini menduduki urutan ke-20 terkaya di dunia dengan kekayaan bersih 58,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp818 triliun.

Jack Ma masih kalah dari taipan farmasi Zhong Shanshan yang menempati urutan keenam dengan kekayaan Rp1.301 triliun dan sesama pengusaha e-commerce Colin Zheng Huang yang berperingkat 19 dengan kekayaan Rp856 triliun.

Baca juga: Jack Ma donasikan perlengkapan medis ke ASEAN termasuk Indonesia
Baca juga: Alibaba gratiskan buku panduan bagi pengusaha selama pandemi


Selanjutnya: Kiritik Jack Ma

Oleh Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Hilangnya Jack Ma memicu spekulasi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar