Apa itu "Intermittent fasting"?

Apa itu "Intermittent fasting"?

Ilustrasi intermittent fasting (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Tidak seperti diet lain yang menghilangkan makanan tertentu seperti lemak atau karbohidrat, puasa berselang atau yang dikenal dengan intermittent fasting adalah pola makan di mana seseorang memiliki waktu makan tepat waktu dalam jendela makan dan berpuasa di waktu lain. 

Indian Express, melansir pada Senin, menyebutkan diet ini tidak membatasi apa yang boleh dimakan dan tidak, bijian-bijian, sayuran, protein atau buah-buah diperbolehkan selama "jendela makan" dibuka.

Prinsip dasar intermittent fasting adalah memberi tubuh waktu untuk mencerna makanan, dan dalam prosesnya, membakar lemak tubuh berlebih serta detoksifikasi. Diet ini dianggap lebih selaras dengan ritme sirkadian tubuh dan lebih bermanfaat.

Baca juga: Tips sederhana atur pola makan sehat ala Ade Rai

Baca juga: Batasi waktu makan bisa bantu turunkan berat badan?


Menurut New England Journal of Medicine (NEJM), intermiten fasting atau tidak makan selama berjam-jam secara berkala setiap minggu, atau menghindari makanan selama jam-jam tertentu setiap hari, dapat memberikan perubahan bagi mereka yang mengalami obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.

"Intervensi intermitent fasting memperbaiki obesitas, resistensi insulin, dislipidemia (jumlah lipid abnormal), hipertensi, dan peradangan. Intermitent fasting tampaknya memberikan manfaat kesehatan lebih besar daripada hanya dengan pengurangan asupan kalori," ujar peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins dalam laporan NEJM dikutip Indian Express pada Senin.

Ada tiga cara dalam mengikuti intermittent fasting yakni puasa pada hari-hari tertentu, puasa 5:2 atau selama dua hari setiap minggu dan makan dalam jangka waktu 6-8 jam serta puasa selama sisa siang dan malam.

Bagi seorang pemula, bisa menggunakan format 16:8, di mana Anda membiarkan tubuh berpuasa selama 16 jam untuk menghilangkan racun, membersihkan dan memperbaiki sistem dan hanya makan selama delapan jam dalam sehari.

Sebagai contoh, Anda bisa makan makanan terakhir sebelum jam 8 malam dan makan selanjutnya di siang hari pada keesokannya. Pola makan seperti ini sangat cocok bagi mereka yang terbiasa melewatkan sarapan.

Selama fase puasa, Anda hanya diperbolehkan minum air putih tanpa kopi, teh, teh hijau dan cuka sari apel. Saat buka puasa, pertama-tama minumlah air dengan lemon dan dilanjutkan dengan buah utuh.

Setelah 20 menit, Anda bisa makan kacang dan makanan ringan lalu diikuti dengan sayuran atau nasi satu jam setelahnya. Anda juga bisa mengkonsumsi camilan sehat selama jendela makan dibuka hingga makan terakhir jelang puasa kembali dimulai.

Sebelum melakukan intermittent fasting, ada baiknya berkonsultasi terlebih dulu pada dokter, terlebih jika memiliki masalah kesehatan kronis.

Baca juga: Inilah jumlah asupan vitamin C harian yang dibutuhkan tubuh

Baca juga: Pola makan terbaik agar pria tak kena disfungsi ereksi

Baca juga: Bobot tubuh cepat naik, bisa jadi ini penyebabnya

 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Benarkah puasa intermiten metode diet paling efektif?

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar