Artikel

Menyelamatkan pariwisata dan kesehatan dengan "travel bubble"

Oleh Yuniati Jannatun Naim

Menyelamatkan pariwisata dan kesehatan dengan "travel bubble"

Menakerparekraf Sandiaga Uno menikmati pemandangan di Nongsa Batam, Jumat (22/1). Menteri mengunjungi Kota Batam untuk melihat kesiapan kota itu untuk penerapan travel bubble dengan Singapura. ANTARA/Naim

Mudah-mudahan bisa diwujudkan, paling tidak Batam dan Bintan bisa terbuka kembali..
Batam (ANTARA) - Pelabuhan Internasional Batam Centre penuh sesak, wisatawan mancanegara tampak asyik berbincang sambil membawa barang belanjaan dalam tas-tas, bersiap kembali ke Singapura usai menghabiskan akhir pekan di Kota Batam Kepulauan Riau.

Itu adalah pemandangan dua tahun lalu, Maret 2019, lebih tepatnya. Saat itu, Badan Pusat Statistik mencatat, 159.752 orang pelancong asing mengunjungi Batam pasca-low season Januari dan Februari.

Jangan tanya soal tahun kemarin dan saat ini. Pelabuhan nyaris kosong. Penerangan dan pendingin pun dibuat redup, agar tidak mubazir. Sedih sekali.

Sejak April 2020, angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam anjlok, hingga 99,71 persen.

Apabila pada tahun-tahun sebelumnya setiap bulan Batam rata-rata dikunjungi lebih dari 100.000 turis asing, maka sejak pandemi menghantam, angkanya tinggal empat digit. Hanya sekitar 1.000 orang yang datang tiap bulan. Bahkan pada Oktober, jumlahnya hanya 457 orang.
Pelabuhan Internasional Batam Centre Batam pada 2019, sebelum pandemi COVID-19. (ANTARA/Naim)
 
Pelabuhan Internasional Batam Centre Batam pada 2020, saat masa pandemi COVID-19. (ANTARA/Naim)

Pariwisata dan menjaga kesehatan masyarakat seperti dua kutub magnet yang saling menolak. Ada dua pilihannya, meningkatkan pariwisata dengan ancaman penularan COVID-19, atau upaya memutus mata rantai penularan virus corona dengan menutup kunjungan wisatawan asing.

Tentu saja, pemerintah memilih menyelamatkan masyarakat. Selama 10 bulan terakhir, perbatasan resmi ditutup.

Baca juga: Sandiaga minta pelaku UMKM Batam berkolaborasi bangkit dari pandemi

Tapi kini ada opsi lain. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno memilih untuk menjadi penghubung dua kutub magnet pariwisata dan kesehatan, dengan kebijakan travel bubble.

Sebagaimana keterangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, travel bubble adalah kesepakatan dengan negara lain untuk membuka akses masuk untuk turis agar timbul gelembung atau koridor perjalanan.

Sejumlah negara sudah menerapkannya. Diharapkan, konsep yang sama bisa diterapkan di Batam dan Bintan dengan Singapura, yang juga jiran.

Dengan landasan itu, Sandiaga melakukan diskusi dengan pihak Singapura.

Dalam kunjungannya ke Batam, 22 Januari 2021, Sandiaga menyatakan dirinya telah telah berbincang dengan sejumlah pihak, di antaranya Menlu Singapura Vivian Balakrihnan dan Menlu RI Retno Marsudi, serta Dubes RI untuk Singapura Suryopratomo untuk memperlancar rencana.

"Saya tidak bisa janji muluk-muluk. Saya harus hati-hati menaruh harapan tinggi. Mudah-mudahan bisa diwujudkan, paling tidak Batam dan Bintan bisa terbuka kembali," kata dia.

Baca juga: Sandiaga Uno kunjungi Batam, tinjau protokol kesehatan dan pariwisata

Travel bubble menjadi kebijakan pembukaan perbatasan secara terbatas, agar tidak menambah penularan COVID-19 di kedua negara.

Sandi mengaku belum terdapat detil kesepakatan penerapan travel bubble dengan Singapura. Namun, Menparekraf menegaskan syarat utamanya adalah angka penularan COVID-19 yang semakin turun dan stabil.

Ia juga menegaskan, baginya kesehatan masyarakat tetap yang utama, karenanya pihaknya harus memastikan daerah-daerah yang ditetapkan travel bubble harus siap, secara penerapan protokol kesehatan COVID-19.
 
Menparekraf Sandiaga Uno mencuci tangan di Desa Wisata di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Sabtu (23/1). (Dok Kemenparekraf)


Bintan terbaik

Dalam kunjungannya ke Batam dan Bintan pada Jumat dan Sabtu (22-23/1), Menteri sengaja ingin melihat secara langsung penerapan protokol kesehatan di dua kabupaten kota yang berseberangan dengan Singapura dan Malaysia itu.

Menparekraf ingin meyakinkan, kedua kawasan wisata di Batam dan Bintan siap menerapkan travel bubble.

Sandi memuji penerapan protokol kesehatan di Batam dan Bintan. Bahkan, menurut dia, Bintan menjadi salah satu yang terbaik dan destinasi yang sangat siap.

Hal ini dinilai juga akan menjadi bahan masukan untuk berbicara dengan rekan instansi terkait kementerian dan lembaga dalam pembicaraan mencoba membuka perbatasan travel bubble.

Usai melihat sejumlah lokasi di Batam dan Bintan, ia menyatakan akan berupaya mendorong untuk bisa mempercepat pembicaraan travel bubble.

Dalam kesempatan itu ia menyampaikan, Batam dan Bintan bergantung pada pariwisata dan ekonomi kreatif. Kedua kabupaten kota di Kepri itu kini tengah menghadapi kondisi berat, sehingga perlu pertimbangan khusus agar bisa menyiapkan diri untuk pulih.

Sandi berpendapat, langkah percepatan itu penting antara lain karena sebentar lagi akan datang Hari Raya Imlek yang juga menjadi peluang terbesar bagi pariwisata Batam dan Bintang, tetapi dengan tetap memperhatikan pariwisata berkualitas dan sehat.

Baca juga: Menparekraf: Protokol kesehatan Bintan terbaik

Pariwisata eksklusif

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar mengutarakan harapannya kepada kebijakan yang terbaik dari pemerintah untuk menumbuhkan kembali industri pariwisata yang tengah suram, namun tetap mengedepankan kesehatan masyarakat.

Menurut dia, penerapan travel bubble cocok diterapkan di kawasan pariwisata eksklusif, antara lain di Nongsa, Lagoi, Pulau Cempedak, Pulai Nikoi, Kepri Coral dan Telunas.

Hal tersebut karena di berbagai tempat tersebut dinilai bisa diterapkan protokol kesehatan secara menyeluruh dan ketat.

Lebih lanjut, Buralimar mengatakan pemerintah mengupayakan agar Bintan akan dibuka sebelum perayaan Tahun Baru China.

Demi memuluskan rencana travel bubble, pihaknya berencana mengundang otoritas penerbit sertifikasi kebersihan di Singapura (SG Clean) untuk mengecek protokol kesehatan di Bintan.

SG Clean merupakan kampanye meningkatkan standar kebersihan publik di tengah pandemi COVID-19 di Singapura. Sertifikat SG Clean diberikan untuk hotel, restoran, tempat wisata dan lainnya yang memenuhi syarat-syarat.

Menurut Buralimar, sertifikasi itu dibutuhkan untuk meyakinkan calon pelancong dari Singapura untuk berlibur di Kepri.

Selain itu, demi meyakinkan pelancong Singapura berkunjung, angka penularan COVID-19 harus ditekan selama 21 hari.

Bila angka penularan tersebut berhasil ditekan seminimal mungkin, dan vaksinasi berlangsung dengan sukses, maka ke depannya sektor pariwisata Nusantara juga akan dapat bergairah kembali seperti sedia kala.

Baca juga: IPI siap bangkitkan industri pariwisata nasional
Baca juga: Mengangkat potensi pariwisata desa di tengah pandemi
Baca juga: Anggota DPR ingatkan industri pariwisata butuh tenaga siap kerja

Baca juga: Sandiaga-Teten bersinergi bangkitkan UMKM pariwisata-ekonomi kreatif
 

Oleh Yuniati Jannatun Naim
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Imigrasi Batam tanggapi rencana kebijakan Travel Bubble

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar