Artikel

Membangun "Silicon Valley" versi Budiman Sudjatmiko

Oleh Martha Herlinawati S

Membangun "Silicon Valley" versi Budiman Sudjatmiko

Ketua Inovator 4.0 Budiman Sudjatmiko (baju putih) saat pembukaan kegiatan Village Investment Forum 2019 di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (26/12/2019). ANTARA/Sumarwoto.

Anak-anak Indonesia yang sekarang ada di Indonesia berkiprah apapun silakan mengembangkan cita-citanya di situ
Jakarta (ANTARA) - Siapapun boleh memiliki cita-cita. Dan tidak ada aturan kapan seseorang boleh ataupun tidak boleh mengejar cita-citanya.

Demikian pula bagi Budiman Sudjatmiko, aktivis 1998 yang kemudian dikenal sebagai politisi PDI Perjuangan, yang belakangan gemar mencuitkan bagaimana proses mengejar cita-cita yang sedang dilakukannya itu di sebuah hamparan lahan di daerah pedesaan berhawa sejuk di Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Pria kelahiran 10 Maret 1970 itu ingin menyulap area seluas 888 hektare (ha) di sana menjadi suatu kawasan inovasi dan teknologi revolusi industri 4.0 seperti Silicon Valley yang ada di sebelah selatan San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat.

Ya, seperti kawasan yang menjadi markas berbagai perusahaan teknologi dunia seperti Apple, Google, Intel, Xerox, Fairchild Semiconductor, PARC, Yahoo!, Silicon Graphic, Sun Microsystem, Cisco System, hingga 3Com.

Pendiri gerakan Inovator 4.0 Indonesia itu ingin menginisiasi terbangunnya "Silicon Valley" versi Indonesia di Sukabumi. Ia berkeinginan agar dari lembah nan hijau di kawasan berudara sejuk itu lahir inovasi dan teknologi terkini seperti Google, Yahoo!, YouTube versi Indonesia. 

Alumnus Universitas Cambridge itu membayangkan lahan yang sedang dipersiapkannya itu dapat menjelma menjadi perpaduan antara Silicon Valley dan Universal Studio, di mana sains dan seni bersatu.

Anak-anak muda Indonesia akan berkumpul, berbincang, berkolaborasi dan menuangkan ide-ide gilanya, berkreativitas dengan bebas, menuangkan ilmu pengetahuannya, kemampuannya dan ketrampilannya untuk menghasilkan inovasi dan teknologi yang mumpuni di berbagai bidang. 

Baca juga: Rahasia yang disembunyikan dari Silicon Valley
Baca juga: Googleplex, industri kreatif, dan satu masa tanpa ketersesatan



Membangun cita-cita

Dalam cita-cita yang diniatkan untuk dijadikan kenyataan sejak 2018 itu Budiman berharap dari kawasan itu juga kelak muncul berbagai lembaga riset dari perusahaan-perusahaan nasional dan internasional yang berkembang dan berkolaborasi menghasilkan produk inovasi dan hasil penelitian yang dapat dikomersialisasikan.

Gayung bersambut. Niat dan rencana itu pun disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan Provinsi Jawa Barat. 

Saat ini tanah milik PT Bintang Raya yang menjadi lokasi pembangunan "Silicon Valley" tersebut dipercayakan untuk dikelola Inovator 4.0 Indonesia, yang menggawangi gerakan kolaborasi berbagai profesional dari berbagai latar belakang bidang ilmu mulai dari peneliti, teknologiwan, politikus, seniman, matematikawan hingga pegiat desa-kota.

Budiman mengatakan terdapat enam gedung besar, 120 rumah permanen, hotel dan asrama yang berdiri di area itu. Bangunan-bangunan tersebut awalnya didiami oleh para petani plasma, sekarang kosong tanpa penghuni.

Kini tanah itu sedang diajukan untuk menjadi kawasan ekonomi khusus dengan status sebagai kawasan inovasi dan teknologi industri 4.0 ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Baca juga: KEK Singhasari diharapkan jadi Silicon Valley Indonesia
Baca juga: Rahasia di balik kesuksesan Netflix


Sambil menunggu respons terhadap pengajuan status kawasan, Budiman dan rekan-rekannya bergerak cepat mencari investasi yang ingin menanamkan modal bagi pengembangan kawasan "Silicon Valley" itu. Investasi tersebut terbuka bagi investor dari dalam negeri maupun luar negeri.

Ketika investasi mengalir untuk mendanai pengembangan kawasan itu, renovasi dan perapian infrastruktur dilakukan sehingga membuat wajah wilayah itu menjadi lebih bersih, hijau, nyaman, dan kondusif untuk terciptanya kawasan inovasi dan teknologi.

Ruangan-ruangan di berbagai gedung di kawasan itu akan ditata dan disewakan untuk jangka waktu tertentu bagi berbagai pihak yang ingin mengembangkan riset, inovasi dan teknologinya. Mereka bisa menempatkan berbagai peralatan teknologi terkini di sana.

Di tempat itu juga, para anak-anak muda Indonesia yang berpikir jauh ke depan, yang berkesempatan kuliah di dalam dan luar negeri dapat berkumpul mempelajari berbagai bidang ilmu termasuk komputer kuantum, kecerdasan buatan, kedokteran, dan bioteknologi. Mereka juga dapat bertemu dengan para filosof, seniman, sejarahwan dan ahli bisnis untuk saling menuangkan ide, merancang start up, melahirkan inovasi dan teknologi.

"Anak-anak Indonesia yang sekarang ada di Indonesia berkiprah apapun silakan mengembangkan cita-citanya di situ mengembangkan kreativitasnya di situ, sambil berkolaborasi, sambil kita menyediakan juga investor-investor segala macam untuk mendanai inovasi-inovasi anak bangsa," ujar putra pertama pasangan Wartono Sudjatmiko dan Sri Sulastri Sudjatmiko itu kepada ANTARA. 

Komputer kuantum

Berbagai inovasi dan teknologi revolusi industri 4.0 tentunya ditargetkan dapat dikembangkan di sana nantinya untuk menjawab kebutuhan dan tantangan di banyak sektor strategis seperti pertanian, kesehatan, pangan, energi, serta informasi dan komunikasi yang dibutuhkan negeri ini.

Teknologi dan bidang ilmu yang digarap di kawasan itu juga beragam mulai dari bioteknologi, nanoteknologi, komputer kuantum (quantum computing), semikonduktor, hingga teknologi energy storage dan industri kreatif. Tak ketinggalan teknologi-teknologi terkini (frontier technology) jadi sasaran pengembangan di wilayah itu.

Budiman memang beberapa kali mencuitkan perihal komputer kuantum akhir-akhir ini. Teknologi yang sama yang juga sering disebut-sebut oleh CEO Google Sundar Pichai. 

Komputer kuantum akan mempengaruhi sistem keamanan negara, sistem keamanan perbankan dan juga akan berdampak pada kecepatan dan ketepatan dalam melakukan riset pengobatan dan kedokteran, kata pria kelahiran Majenang, Jawa Tengah itu. 

Baca juga: Kampus Facebook Silicon Valley sempat mendapat ancaman bom
Baca juga: Pusat inovasi serupa Silicon Valley segera dibangun di Papua


Teknologi itu akan memberikan kecepatan dan ketepatan mengkalkulasi banyak data dalam hitungan detik. Dengan demikian, diharapkan dari "Silicon Valley" Indonesia akan ada pengembangan baik perangkat lunak maupun perangkat keras  untuk mengoperasikan komputer kuantum yang didambakannya itu.

Menurut Ketua Program Studi Sarjana Ilmu Komputer di Universitas Indonesia Dr Amril Syalim, komputer kuantum merupakan cara melaksanakan komputasi dengan menggunakan super posisi dan keterkaitan kuantum sehingga menghasilkan penghitungan yang super cepat dan tepat.

Dengan quantum computing, kata dosen dan peneliti bidang cybersecuritycryptography, dan cloud computing itukalkulasi super cepat terhadap jumlah data yang sangat banyak dapat dilakukan. Perhitungan terkait simulasi cuaca dan upaya memecahkan kode atau sandi rahasia jadi jauh lebih cepat dan tepat.

Dengan lahirnya berbagai inovasi dan teknologi hasil riset dan pengembangan yang menjawab tantangan di era revolusi industri 4.0, maka diharapkan dapat membawa Indonesia segera keluar dari "jebakan" negara berpendapatan menengah (middle income trap). Karena untuk keluar dari "jebakan" itu, pertumbuhan ekonomi harus berbasis inovasi bukan lagi sekadar mengeksploitasi sumber daya alam.

Kontribusi untuk desa

Cita-cita Budiman termasuk membuat "Silicon Valley" versi Indonesia itu dapat menjadi tempat berkumpulnya sumber daya manusia Indonesia handal dan terampil, yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan desa-desa di Indonesia.

Berbagai inovasi dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh desa-desa yang kebingungan dalam mengoptimalkan penggunaan dana desa sekitar Rp1 miliar yang dikucurkan pemerintah tiap tahun. Tidak mungkin dana desa hanya digunakan melulu untuk seputar pembangunan jalan dan gapura.

Sementara desa dapat mendirikan badan usaha milik desa untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa. Namun ternyata, permasalahan lain muncul, di mana desa dihadapkan pada kenyataan kurangnya sumber daya manusia terampil.

Berangkat dari masalah itu, Budiman yang termasuk aktif mempelopori munculnya Undang-Undang Desa itu akhirnya berpikir bahwa desa bisa berbisnis dan berteknologi, dan "Silicon Valley" tersebut yang akan menjadi jawaban untuk kebutuhan itu.

Budiman berharap desa-desa nantinya bisa memanfaatkan sumber daya dari sana, bahkan bisa berinvestasi membuat suatu perusahaan teknologi yang lembaga risetnya ada di kawasan itu, dan hasil teknologinya bisa digunakan untuk membangun sekaligus meningkatkan perekonomian desa.

Produk riset dan inovasi dari sana akan menjadi kebanggaan Indonesia dalam meningkatkan kiprah bangsa ini di ranah persaingan global, sekaligus tentu harus bermanfaat untuk pembangunan ekonomi di dalam negeri.

Dengan keberadaan "Silicon Valley" itu, maka Indonesia bukan hanya siap di era pandemi COVID-19 dan di masa revolusi industri 4.0. Bukan cuma menjadi bangsa yang mengonsumsi teknologi tetapi juga menjadi yang memproduksi teknologi. Dan Indonesia bukan hanya menjadi bangsa pengunduh saja tetapi menjadi bangsa pengunggah.

Baca juga: Karyawan Facebook dan Google di Silicon Valley kerja dari rumah
Baca juga: Bos-bos Silicon Valley justru larang anak mereka main medsos

 

Oleh Martha Herlinawati S
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar