Pakar ingatkan pengurangan deforestasi penting untuk target emisi GRK

Pakar ingatkan pengurangan deforestasi penting untuk target emisi GRK

Tangkapan layar - Pakar mitigasi perubahan iklim dari IPB University, Prof. Rizaldi Boer dalam diskusi virtual dampak food esate terhadap hutan alam dan gambut, dipantau dari Jakarta pada Rabu (24/2/2021). ANTARA/Tangkapan layar Youtube Madani Berkelanjutan/pri.

hanya bisa dicapai melalui penurunan deforestasi secara signifikan
Jakarta (ANTARA) - Pakar mitigasi perubahan iklim dari IPB University, Prof. Rizaldi Boer, mengingatkan bahwa target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia bergantung pada penurunan deforestasi secara signifikan

"NDC punya target yang sebenarnya cukup luar biasa untuk bisa mencapai target penurunan emisi 29 persen, di mana sektor kehutanan bebannya dari 29 persen itu adalah 17 persen. Sebagian besar dari 17 persen itu hanya bisa dicapai melalui penurunan deforestasi secara signifikan," kata Rizaldi dalam diskusi virtual dampak food esate terhadap hutan alam dan gambut, dipantau dari Jakarta pada Rabu.

Tidak hanya itu, tegas Rizaldi, diperlukan juga restorasi dan perbaikan fungsi lahan gambut agar Indonesia bisa mencapai Nationally Determined Contribution (NDC) sebesar 29 persen dengan usaha sendiri, atau 41 persen dengan dukungan internasional pada 2030.

Respons dari Executive Director Center for Climate Risk and Opportunity Managemen in Southeast Asia and Pacific (CCROM-SEAP) IPB University itu menanggapi kajian dari Yayasan Madani Berkelanjutan yang menemukan 92 persen dari area of interest (AOI) food estate seluas 3,69 juta hektare (ha) di empat provinsi berada di kawasan hutan.

Baca juga: Presiden: Lumbung pangan di Sumba Tengah akan capai 10 ribu hektare

Baca juga: Panen hortikultura, Ketua DPD: Program "food estate" mulai dirasakan


Menurut kajian Yayasan Madani Berkelanjutan di wilayah Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah dan Papua, beberapa daerah yang masuk dalam rencana food estate pemerintah, menemukan luas hutan alam yang berisiko hilang atau terdampak adalah seluas 1,38 juta ha.

Menurut Rizaldi, jika memang rencana food estate itu dijalankan seperti yang dikaji oleh Madani maka akan semakin berat bagi Indonesia untuk mencapai target pengurangan emisinya.

Menurutnya wilayah berhutan alam yang ada di hutan tanaman industri (HTI) dan hak guna usaha (HGU) dan yang masuk ke arahan lindung adalah sekitar 5,8 juta ha.

"Yang itu harus dipertahankan, tapi mempertahankan sebanyak ini belum cukup untuk mencapai target NDC," tegasnya.

Baca juga: Presiden tinjau lumbung pangan di Sumba Tengah

Baca juga: DPR ingatkan potensi tingginya biaya logistik hasil panen food estate

Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Riau siapkan 30.000 hektare lahan untuk food estate

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar