Bank Dunia tekankan ekonomi laut berkelanjutan demi kesejahteraan RI

Bank Dunia tekankan ekonomi laut berkelanjutan demi kesejahteraan RI

Managing Director of Development Policy and Partnerships, Bank Dunia, Mari Elka Pangestu dalam peluncuran laporan Laut untuk Kesejahteraan: Reformasi untuk Ekonomi Biru di Indonesia, Kamis (25/3/2021). ANTARA/Facebook World Bank Indonesia/pri.

Saya harap Indonesia akan bertransformasi ke ekonomi biru dan mendapatkan manfaat dari ekonomi biru ini
Jakarta (ANTARA) - Bank Dunia merilis laporan Laut untuk Kesejahteraan: Reformasi untuk Ekonomi Biru di Indonesia, di mana lembaga itu menekankan pentingnya ekonomi laut yang berkelanjutan demi kesejahteraan Indonesia di masa mendatang.

Managing Director of Development Policy and Partnerships, Bank Dunia, Mari Elka Pangestu dalam peluncuran laporan tersebut secara virtual, Kamis, mengungkapkan bahwa ekonomi laut yang berkelanjutan sangat penting bagi Indonesia untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang sejahtera, lingkungan laut yang sehat, dan perekonomian nasional yang berkembang.

"Kami percaya, ekonomi biru (ekonomi laut) akan membantu negara-negara termasuk Indonesia untuk mencapai sejumlah manfaat, diantaranya laut yang sehat, kehidupan pesisir yang tangguh, serta pertumbuhan ekonomi. Jadi Indonesia bisa dapat keberlanjutan, dan juga mencapai pertumbuhan dan penghidupan," tuturnya.

Mari menuturkan, peran laut sangatlah penting bagi kesejahteraan Indonesia, dengan sektor perikanan senilai 27 miliar dolar AS yang menghidupi 7 juta tenaga kerja, dan memenuhi lebih dari 50 persen kebutuhan protein hewani di Indonesia.

Namun, terdapat tantangan bagi ekosistem laut dan pesisir, yang apabila tidak dikelola secara berkelanjutan, dapat mengurangi potensi ekonomi laut Indonesia.

Sekitar 38 persen dari ikan ditangkap melebihi kemampuan ekosistem untuk mengembalikan jumlahnya (overfishing), sekitar sepertiga dari terumbu karang yang berharga bagi Indonesia berada dalam kondisi kurang baik, ekosistem pesisir yang penting, seperti mangrove, mengalami pengurangan yang besar. sementara sampah laut menimbulkan kerugian bagi perekonomian Indonesia senilai lebih dari 450 juta dolar AS setiap tahunnya.

Beberapa destinasi wisata laut dan pesisir juga telah menunjukkan dampak dari pengunjung yang terlalu padat dan belum memiliki infrastruktur dasar yang memadai.

"Saya harap Indonesia akan bertransformasi ke ekonomi biru dan mendapatkan manfaat dari ekonomi biru ini," kata mantan Menteri Perdagangan itu.

Untuk mendukung berbagai strategi dan kegiatan pemerintah Indonesia, laporan ini mengusulkan beberapa rekomendasi. Untuk mendukung sektor perikanan yang berkelanjutan dan produktif, pemerintah dapat menerapkan sistem Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia dan memperkuat area taman laut yang terus berkembang, dengan memanfaatkan potensi dukungan dari dana abadi nasional dan kemitraan dengan sektor swasta.

Pemerintah juga perlu memperluas moratorium alih fungsi hutan primer hingga meliputi seluruh ekosistem mangrove dapat mencegah kerusakan mangrove, serta mendukung sasaran restorasi mangrove yang ada saat ini.

Laporan itu juga merekomendasikan langkah-langkah untuk mengurangi sampah plastik di laut, termasuk dengan menetapkan persyaratan minimum kandungan bahan daur ulang di dalam produk-produk tertentu dan memperluas larangan penggunaan produk-produk plastik yang dapat digantikan. Upaya untuk mengatur arus pengunjung ke destinasi wisata pesisir dan laut juga dapat ditingkatkan.

Sebagai bahan informasi berbagai investasi dan kebijakan nasional, serta agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang keuangan biru, maka pemerintah dapat melanjutkan upaya untuk meningkatkan data dan penghitungan jasa ekosistem, seperti potensi karbon yang tersimpan, habitat bagi keanekaragaman hayati, dan perlindungan dari badai.

Satu Kahkonen, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, mengatakan pada tingkat global, reformasi yang mendorong ekonomi laut yang berkelanjutan telah terbukti dapat mengembangkan potensi ekonomi laut sekaligus mengatasi perubahan iklim, memenuhi kebutuhan bagi ketahanan pangan dan keanekaragaman hayati.

"Investasi yang berkelanjutan dalam keterampilan, kelembagaan, infrastruktur, dan layanan akan membantu Indonesia memanfaatkan sumber daya lautnya secara berkelanjutan dan menyeluruh. Selain itu, di masa pasca pandemi COVID-19, kegiatan restorasi dan konservasi ekosistem pesisir dan laut dapat membantu menyediakan pekerjaan jangka pendek sembari memperkuat ketahanan dalam jangka panjang," katanya.

Baca juga: Bank Dunia setujui pinjaman 500 juta dolar AS untuk risiko bencana
Baca juga: Konferensi ekonomi biru IORA hasilkan Deklarasi Jakarta
Baca juga: Pauli: Ekonomi biru relevan di sektor kelautan

 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Cerita Mari Elka - Dari wartawan "wanna be" akhirnya jadi petinggi Bank Dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar