Akademisi prediksi pasokan ayam masih berlebih tahun ini

Akademisi prediksi pasokan ayam masih berlebih tahun ini

Seorang peternak ayam petelur sedang panen telur ayam di kandangnya di Kupang, NTT, Sabtu (20/3/2021). Bank Indonesia wilayah Perwakilan Nusa Tenggara Timur bersama dengan Pemprov NTT sedang mencari serta mendorong investor yang ingin berinvestasi di bidang ternak ayam petelur mengingat minimnya peternak ayam petelur di NTT yang sering berujung pada mahalnya harga telur akibat pasokan masih dari pulau Jawa. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha.

Jadi pata tahun ini berpotensi kelebihan setengah miliar ekor lebih
Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor Prof Muladno Basar memprediksi pasokan ayam masih "over supply" atau berlebih pada tahun ini sebagaimana terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Muladno dalam webinar pengendalian "over supply" perunggasan yang dipantau di Jakarta, Kamis, mengatakan pasokan ayam pada tahun ini berpotensi berlebih sebanyak 510 juta ekor.

Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) potensi produksi ayam dalam bentuk hidup maupun daging karkas tahun ini sebanyak 3,4 miliar ekor, sementara permintaan di masyarakat diperkirakan sebanyak 2,9 miliar ekor.

"Jadi pata tahun ini berpotensi kelebihan setengah miliar ekor lebih," kata Muladno.

Data GPPU pada 2020, realisasi produksi ayam sejak Desember 2019 hingga November 2020 yaitu sebanyak 2.919.516.243 ekor, sedangkan permintaan di masyarakat hanya 2.469.567.938 ekor sehingga berlebih 449.948.305 ekor.

Muladno menerangkan pada akhir 2020 pemerintah melalui Kementerian Pertanian sudah berupaya membuat keseimbangan antara pasokan dan permintaan dengan pengurangan Day Old Chicken (DOC) atau ayam berusia kurang dari 10 hari dan afkir dini yang bisa mengurangi hingga 130 juta ekor. Namun jumlah tersebut masih belum cukup untuk mengimbangi kelebihan pasokan sebanyak 449 juta ekor.

Menurut Muladno, masalah kelebihan pasokan unggas ini telah terjadi di Indonesia bahkan sejak tujuh tahun terakhir. Pasokan yang lebih besar dibandingkan permintaan yang ada menyebabkan harga ayam hidup di tingkat peternak menjadi turun meskipun harga daging ayam tetap stabil.

Baca juga: Ketua DPD minta pemerintah lindungi peternak ayam mandiri

Baca juga: PPRN: Kegagalan tata niaga unggas rugikan peternak Rp5,4 triliun

Baca juga: PT PPI terus jalankan penyerapan ayam hidup dari peternak mandiri

Baca juga: Pinsar: konsumsi ayam-telur Indonesia rendah dibanding negara tetangga

 

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Bagikan telur & ayam, Airlangga Hartarto catat rekor MURI

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar