Pandemi diharapkan jadi momentum perbaiki infrastruktur industri film

Pandemi diharapkan jadi momentum perbaiki infrastruktur industri film

Pengunjung menyaksikan film yang diputar di salah satu bioskop di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (4/11/2020) (ANTARA/Nova Wahyudi/20)

Jakarta (ANTARA) - Wakil 1 Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Hikmat Darmawan menyampaikan, momentum hari Film Nasional di tengah pandemi COVID-19 diharapkan dapat memperbaiki iklim industri layar lebar di Indonesia.

Meski pada tahun 2019 sebelum pandemi COVID-19 menjadi momen berkembangnya industri film, namun ia menyakini setelah pandemi COVID-19 industri film di Indonesia dapat lebih baik lagi berkembang dibandingkan dengan 2019.

“Pandemi ini momentumnya untuk restrukturisasi dan remodeling bisnis industri film untuk menghadirkan infrastruktur dan kondisi industri yang lebih baik lagi. Dari segi infrastruktur kita bersyukur saat ini sudah ada 2.500 layar secara keseluruhan tapi masih belum seimbang, masih banyak penduduk di luar Jabodetabek yang belum terlayani untuk layanan bioskop,” kata Hikmat kepada ANTARA,Selasa.

Baca juga: Hari Film, ini tiga fokus Kemenparekraf geliatkan industri layar lebar

Baca juga: Rayakan Hari Film Nasional, Google hadirkan fitur "What to Watch"


Dengan pembenahan restrukturisasi infrastruktur yang tepat, Hikmat mengatakan sangat mungkin jumlah penonton potensial di Indonesia bertambah menjadi 80 juta penonton dibandingkan dengan di tahun 2019 yang terhitung sekitar 50 juta penonton.

Selain infrastruktur, momen pandemi juga dapat menjadi cara lain untuk memperbaiki iklim industri film yang sudah ada saat ini.

“Hingga saat ini, kita hanya berpatokan pada hitungan jumlah penonton yang ke bioskop. Padahal pada industri film yang sehat indikator kesuksesan sebuah film itu terlihat dari angka perolehan penjualan tiket. Kalau liat skala box office, mereka menghitung dari pendapatan sekian juta hingga ratusan dolar AS,” kata Hikmat.

Iklim yang hanya berpatokan pada jumlah penonton itu diharapkan bisa diubah menggunakan skala angka penjualan sehingga keputusan bisnis industri film bisa lebih tepat.

Hikmat mengatakan saat ini karena jumlah penonton masih menjadi indikator utama, sangat awam bagi para pelaku industri film menerka-nerka genre film.

“Banyak sekali pelaku industri film, menyiapkan strategi untuk filmnya bisa laku hanya dengan perkiraan yang belum tentu juga benar. Akhirnya semua latah misalnya lihat satu film genre keluarga laku, semua bikin yang sejenis. Kan tidak benar juga, sehingga akhirnya keragaman genre jadi kurang terbangun,” kata Hikmat.

Padahal menurutnya dengan adanya keragaman genre, semakin banyak penonton potensial yang bisa tertarik lebih banyak lagi pada film- film besutan karya anak bangsa.

Oleh karena itu, Hikmat berharap dengan berjalannya pemulihan di masa pandemi COVID-19 baik dari Pemerintah dan para pelaku industri film dapat menjadikan momentum itu untuk menyehatkan infrastruktur dan juga iklim di industri nasional.

“Jangan cuma berharap baik seperti dulu, harusnya bisa lebih baik lagi dan jangan sampai kelewatan opportunity-nya (membenarkan infrastruktur dan iklim industri film),” kata Hikmat.

Baca juga: DKJ optimistis banyak karya musisi muda terinspirasi budaya Indonesia

Baca juga: DKJ harap konser fisik dan daring bisa beriringan di pemulihan pandemi

Baca juga: Anggota DKJ harapkan musisi jadikan pandemi inspirasi bermusik


 

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Seno Gumira: bangsa kita lebih memilih tampilan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar