AS minta penggunaan vaksin COVID Johnson & Johnson dihentikan

AS minta penggunaan vaksin COVID Johnson & Johnson dihentikan

Barbara Schmalenberger, 86 tahun, dari Hilliard, Ohio, memeluk putrinya, Melanie Gagnon, setelah menerima vaksin penyakit virus korona (COVID-19) Johnson & Johnson di OSU Wexner Medical Center di Columbus, Ohio, AS (2/3/2021). ANTARA FOTO/REUTERS / Gaelen Morse /aww.

Washington (ANTARA) - Badan kesehatan federal Amerika Serikat pada Selasa meminta agar penggunaan vaksin COVID-19 dosis tunggal Johnson & Johnson dihentikan setelah enam penerima vaksin mengalami kelainan langka termasuk pembekuan darah.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) akan mengadakan pertemuan pada Rabu guna meninjau kasus tersebut.

Semua enam penerima vaksin adalah perempuan antara usia 18-48 tahun. Seorang perempuan meninggal dan satu lagi di Nebraska dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis, seperti dilansir New York Times, mengutip pejabat.

CDC dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) melalui pernyataan bersama mengatakan bahwa insiden buruk tampaknya sangat jarang terjadi saat ini.

Per 12 April lebih dari 6,8 juta dosis vaksin COVID-19 Johnson & Johnson telah diberikan di AS.

Saham perusahaan itu terjun bebas, turun 3 persen sebelum pembukaan perdagangan.

Permintaan dari regulator AS muncul kurang dari sepekan setelah regulator obat Eropa menyebutkan bahwa pihaknya sedang meninjau kasus pembekuan darah langka pada empat penerima vaksin di AS.

Sumber: Reuters
Baca juga: Jerman pertengahan April terima pengiriman awal vaksin COVID J&J
Baca juga: Vaksin J&J AS diperkirakan akan mengantongi izin Uni Eropa awal Maret
Baca juga: Afrika Selatan dijanjikan 9 juta dosis vaksin COVID Johnson & Johnson

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar