Kurang asupan gizi sebabkan stunting hingga lemahkan otak

Kurang asupan gizi sebabkan stunting hingga lemahkan otak

Ilustrasi - 'Stunting' salah satunya karena anak-anak, khususnya di bawah 12 bulan, masih kerap mengonsumsi kental manis yang memiliki kandungan protein rendah. (ANTARA/HO-Istimewa)

Kita cuma bisa kejar dengan pendidikan yang baik dan makanan baik sambil distimulasi
Jakarta (ANTARA) - Kurangnya asupan gizi pada anak-anak sangat memengaruhi tumbuh kembang, bahkan bisa melemahkan otak mereka.

Ketua Pokja Antropometri Kementerian Kesehatan dan Dokter Spesialis Anak Konsultan Nutrisi & Penyakit Metabolik RSCM ​Prof. dr. Damayanti R Sjarif, Sp.A(K) mengatakan, pemahaman mengenai pemberian gizi lengkap masih belum merata di masyarakat sehingga menyebabkan masih terjadinya kasus stunting.

Stunting
merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Anak yang menderita stunting biasanya memiliki postur tubuh lebih pendek dari anak dengan pertumbuhan normal.

Baca juga: Digitalisasi untuk menurunkan angka stunting

"Pasien saya di kota besar Jakarta, ibu-ibunya kan sudah melek gawai, informasi mengenai makanan bagus dari sosmed, tapi kebetulan banyak yang tidak benar. Akibatnya anak tidak dapat protein hewani yang cukup untuk hormon pertumbuhannya. Ini disebabkan karena ketidaktahuan bukan karena kemiskinan atau penelantaran," kata Prof. Damayanti dalam peluncuran "Frisian Flag Primagro", Kamis.

Tak hanya soal tinggi badan yang berbeda dari anak sebayanya, stunting dapat melemahkan otak anak sehingga daya kemampuan berpikirnya kurang dan berpengaruh pada masa depannya.

Prof. Damayanti mengatakan kekurangan gizi kronik dari protein yang harusnya dibutuhkan anak menghambat kemampuan otak untuk bekerja. Hal itu bisa terjadi hingga dewasa.

Baca juga: Anemia saat hamil dan asap rokok dapat akibatkan "stunting" bayi

Untuk membuat tumbuh kembang maksimal, anak harus mendapatkan asupan gizi seimbang khususnya protein hewani dan nabati. Menurut Prof. Damayanti, kebutuhan protein hewani tidak bisa digantikan dengan asupan lain.

Prof. Damayanti juga mengatakan bahwa usia 0-2 tahun adalah angka yang tepat untuk memberikan gizi terbaik bagi anak agar tidak mengalami stunting. Jika terlewat, yang bisa diperbaiki hanya fisiknya saja.

"Kita cuma bisa kejar dengan pendidikan yang baik dan makanan baik sambil distimulasi. Nanti akan naik tapi ya mengejarnya akan susah dibandingkan dengan anak yang normal," kata Prof. Damayanti.

Persoalan stunting di Indonesia merupakan masalah yang serius dan pemahaman para orangtua harus sama dalam masalah ini. "Sebelum semuanya terlambat, orangtua harus sadar akan pentingnya asupan anak sejak dini," ujar Prof. Damayanti.

Baca juga: Arumi Bachsin: Cegah stunting dengan edukasi gizi sejak remaja

Baca juga: Cegah stunting sejak masa kehamilan dengan USG rutin

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Aceh Utara menggenjot penurunan kasus stunting

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar