Jakarta (ANTARA News) - Tanyalah warga Jakarta mengapa mereka ngotot membeli dan menaiki sepeda motor atau kendaraan pribadi lainnya. Jawaban umum mereka adalah angkutan massal di negeri ini tak bisa mengantarkan mereka lebih cepat, lebih nyaman dan tak membantu mereka hidup lebih efisien serta lebih produktif.

"Saya mau beralih menggunakan transportasi massal seperti busway asal pelayanan, kecepatan dan ketepatan ke tempat tujuan lebih baik," kata Volter Wangol, karyawan swasta di kawasan Jl. Majapahit, Jakarta.

Seperti kebanyakan warga Jakarta, Volter siap meninggalkan kendaraan pribadi untuk beralih ke angkutan massal seperti busway jika bisa mengantarkannya lebih cepat, syukur-syukur lebih nyaman.

Meski begitu, Volter menilai busway efektif mengurangi kemacetan di Jakarta, sementara sarana dan prasarananya pun dinilai sudah cukup bagus.

Namun, Volter ingin pengelola busway lebih memperhatikan lagi soal pelayanan dan segera mengatasi kekurangan armada bus sehingga sejumlah koridor tidak kosong percuma dan membuat warga gagal meningkatkan efisiensi waktunya di jalanan.

Padahal, efisiensi waktu itu mendorong produktivitas, bahkan kualitas kerja. "Waktu yang terbuang itu mengurangi produktivitas dan daya saing," kata Wendell Cox, pakar transportasi Prancis.

Volter berharap Jakarta memiliki monorel yang dianggapnya tidak menyita jalur jalan yang telah ada sehingga menghindari tabrakan dan kemacetan, selain mampu menekan biaya perawatan sistem transportasi seperti terjadi selama ini pada busway.

"Apapun jenis moda transportasinya, asal efisien dan terjangkau, masyarakat pasti beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal," ulang Volter.

Bagi sebagian besar orang, busway dinilai sudah cukup efektif dan membantu mereka efisien mengelola waktu serta pengeluaran keuangannya. Debby Yulia, alumnus Universitas Negeri Jakarta, adalah salah seorang yang memandang busway seperti itu.

Debby sudah 3 tahun melanggani busway koridor Cengkareng - Pulogadung dan dia bisa menghemat waktu sampai dua jam karena menggunakan busway.

Tentu saja kalau semuanya lancar, kata dia. Maksudnya, lancar jika dia tidak antri terlalu lama di halte, koridor-koridor rusak cepat diperbaiki, dan tidak ada rintangan di perempatan jalan di mana TransJakarta juga melaluinya.

"Masalah utamanya adalah jumlah armadanya kurang. Jadi harus antri lama dan kalau sudah panjang, lalu mesti berdesak-desakkan inilah biasanya terjadi pelecehan seksual di busway," kata dara yang baru beberapa minggu menyelesaikan kuliahnya itu.

Seperti Volter, Debby menunggu hadirnya monorel dan bahkan subway.

"Ketepatan waktu itu penting dan waktu adalah uang. Apapun jenis modanya, asal cepat saya mau pakai," tegas Debby.

Ardiansyah, siswa kelas 2 SMK 56 Jakarta, lain lagi. Pemuda tanggung pengguna fanatik sepeda motor ini siap meninggalkan wahana transportasi andalan puluhan juta orang Indonesia ini, asal ada moda transportasi umum yang aman dan tepat waktu.

"Jika menunggu busnya saja antri sampai dua jam untuk koridor 3 Kalideres - Pasar Baru, saya ogah ah," kata Ardiansyah.

Lelaki muda yang belumlah dewasa itu juga berharap Indonesia dan Jakarta mempunyai monorel dan subway, karena tipikal moda transportasi seperti itu dinilainya lebih tepat waktu dan tak memaksa penumpang antri lama di halte.

"Moda transportasi seperti itu pasti membuat orang termotivasi pindah menggunakan angkutan umum massal," katanya.

Keluhan antri terlalu lama dan berdesak-desakkan juga disampaikan Rika Febrianti (25), karyawati satu kantor di Jakarta Pusat.

"Sejauh ini pelayanan busway sudah bagus, tetapi aduh, saya sering harus menunggu terlalu lama di stasiun Pulogadung - Harmoni," demikian Rika. (*)

editor: jafar sidik

Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2010