Semarang (ANTARA News) - Susanti (28), penderita penyakit langka "Guillain-Barre Syndrome" (GBS) yang sedang hamil sekitar satu bulan, akhirnya dikuret karena kondisi janin diperkirakan tidak bisa bertahan.

"Susanti dikuret hari ini (27/8) sekitar pukul 14.00 WIB oleh tim dokter Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang, dan kondisinya masih lemah," kata Sumardi (31), kakak Susanti di Semarang, Jumat.

Susanti adalah penderita penyakit GBS yang termasuk golongan "autoimun desease" yang tergolong langka dengan kemungkinan terjangkit pada 1:200.000 orang dan saat ini sedan g dirawat di RSI Sultan Agung Semarang.

Menurut Sumardi, tim dokter sebelum melakukan kuret sudah meminta persetujuan keluarga dengan menjelaskan segala kemungkinan jika janin yang dikandung Susanti tetap dipertahankan atau tidak.

"Kami mempercayakan langkah penanganan kepada dokter karena mereka lebih tahu kondisi secara medis, dan sebelum melakukan kuret sudah meminta persetujuan dan pertimbangan dari pihak keluarga," katanya.

Tim dokter, kata dia, menjelaskan bahwa kondisi yang dialami Susanti itu termasuk jarang untuk penderita GBS, sebab Susanti mengidap penyakit itu saat hamil sehingga penanganannya rumit.

"Tim dokter mengatakan memang ada satu-dua kasus penderita GBS yang tengah hamil dan janinnya bisa dipertahankan, namun usia kehamilan mereka sudah menginjak lebih dari 16 minggu," katanya.

Ia mengatakan, kandungan Susanti saat ini baru berumur sekitar empat bulan sehingga akhirnya tim dokter terpaksa memutuskan melakukan kuret untuk menghindari kemungkinan terburuk.

Ia mengatakan, kondisi Susanti usai dikuret hingga saat ini justru semakin lemah dan tidak bisa menggerakkan jari tangan dan kakinya, padahal sebelum menjalani kuret masih bisa menggerakkannya.

Ia menjelaskan, kondisi Susanti sejak divonis mengidap penyakit "GBS" dan dipindah ke ruang "intensive care unit" (ICU) RSI Islam Sultan Agung memang lemah dan hanya bisa menggerakkan jari kaki dan tangannya.

Ia mengatakan, biaya pengobatan Susanti sangat besar. Hingga saat ini tagihan RS sudah mencapai Rp148 juta, belum ditambah biaya sewa "ventilator" yang mencapai dua juta rupiah per hari.

"Sebelumnya, Susanti masih diharuskan mengonsumsi `imunoglobulin` sebanyak delapan botol per hari, padahal harga obat itu per botolnya berkisar Rp2,5 juta. Namun, saat ini konsumsi obat itu sudah dihentikan," katanya.

Ia mengaku, pihak keluarga sudah tidak sanggup lagi membeli "imunoglobulin" yang ditanggungkan kepada keluarga dan hanya mampu menyediakan obat itu selama lima hari yang sudah menghabiskan sekitar Rp80 juta.

"Untuk membeli `imunoglobulin` selama lima hari itu saja, kami sudah menjaminkan tanah. Kami merasa sudah tidak sanggup lagi dan kata dokter lima hari saja sudah cukup," kata Sumardi.

Sebelumnya diwartakan, Susanti, pengidap penyakit "GBS" yang dirawat di RSI Sultan Agung sejak 11 Juli 2010 itu ternyata sedang hamil, padahal saat pertama dirawat belum ditemukan tanda-tanda kehamilan.

Susanti (28) adalah guru SMP-SMA Ma`arif Brangsong Kendal yang baru diperistri Sigid Setiawan (29) pada Maret 2010, dan 11 Juli 2010 harus menjalani perawatan di RSI Sultan Agung Semarang.

Sebelumnya, warga Tanggulsari RT 02/ RW 07 Brangsong, Kendal itu sempat dirawat di Puskesmas Kaliwungu karena mengeluhkan kelelahan dan muntah-muntah, namun kemudian dirujuk ke RSI Sultan Agung Semarang.

Diagnosis awal, Susanti terkena radang usus dan harus menjalani operasi yang dilakukan pada 13 Juli 2010, namun setelah operasi kondisinya justru semakin parah hingga akhirnya didiagnosis terkena penyakit GBS. (*)

(U.KR-ZLS/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010