Kemendag fasilitasi BUMN teken MoU ekspor beras ke Arab Saudi

Kemendag fasilitasi BUMN teken MoU ekspor beras ke Arab Saudi

Petani menjemur gabah hasil panen di Aceh Besar, Aceh, Senin (29/3/2021). Kementerian Pertanian menyebutkan produksi beras dalam negeri selama masa panen raya awal tahun 2021 berpeluang untuk ekspor mengingat permintaan dari negara lain cukup tinggi seperti ke Belanda, Amerika Serikat, Malaysia, Belgia dan Bangladesh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra.

Masa pandemi COVID-19 saat ini justru menjadi waktu yang tepat untuk mempersiapkan produk- produk Indonesia ke pasar Arab Saudi
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama ekspor beras antara BUMN PT Sang Hyang Seri (SHS) dan perusahaan Al Batlah di Arab Saudi.

Penandatanganan MoU tersebut merupakan hasil fasilitasi Kementerian Perdagangan melalui Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Jeddah bersinergi dengan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah, Arab Saudi.

“Masa pandemi COVID-19 saat ini justru menjadi waktu yang tepat untuk mempersiapkan produk- produk Indonesia ke pasar Arab Saudi. Mudah-mudahan tahun depan jemaah umrah dan haji sudah bisa beribadah ke Arab Saudi, dan saat itu terjadi beras Indonesia sudah tersedia di sini. Kesiapan stok pangan dari Indonesia dapat memberikan kenyamanan beribadah saat jemaah dari Indonesia sudah kembali mengunjungi Arab Saudi,” kata Kepala ITPC Jeddah Muhammad Rivai Abbas lewat keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Utama SHS Karyawan Gunarso dan General Manager Al Batlah Muhammad Husein pada Senin (14/6) di KJRI  Jeddah, disaksikan langsung oleh Konsul Jenderal RI Jeddah Eko Hartono dan Direktur Komersial PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Frans Tambunan. PT RNI merupakan Holding BUMN Pangan Indonesia.

Rivai menyampaikan saat pasar global sedang lemah akibat pandemi, ITPC Jeddah mempersiapkan produk-produk Indonesia untuk diekspor ke Arab Saudi.

Menurut Rivai, beras adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Dengan banyaknya masyarakat Indonesia berdomisili di Arab Saudi ditambah jemaah haji dan umroh asal Indonesia yang kesehariannya mengonsumsi nasi, maka masuknya beras asal Indonesia ke Arab Saudi dalam kondisi pandemi ini merupakan prestasi yang membahagiakan.

Konjen Eko Hartono mengatakan ekspor beras ke Arab Saudi akan membantu memenuhi kebutuhan pokok jemaah haji dan umroh asal Indonesia.

“Penandatanganan MoU ini adalah langkah yang sangat baik. Dengan beras di pasaran, kami berharap jemaah haji dan umroh bisa mengonsumsi makanan yang berasal dari Indonesia. Salah satu tantangan ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi adalah penetapan harga. Semoga dengan kesepakatan harga dari SHS, Al Batlah bisa segera mengimpor dari Indonesia,” kata Eko.

Sementara itu, Direktur RNI Frans Tambunan menyambut baik kerja sama ini dan berharap produk- produk pangan di luar beras akan segera menyusul diekspor ke Arab Saudi. Ia mengatakan, BUMN Indonesia memiliki beragam produk pangan yang potensial untuk pasar Arab Saudi seperti produk- produk hasil perikanan.

Dirut SHS Karyawan Gunarso menyambut baik kerja sama ini dan sangat optimistis ekspor beras akan berjalan lancar. SHS memiliki lahan seluas 3.000 hektare dan lahan tambahan seluas 10.000 hektare yang mampu menghasilkan kurang lebih 25.000 ton beras per tahun.

SHS dan Al Batlah sepakat mempelajari profil bisnis dan melakukan studi bersama untuk merealisasikan berbagai kerja sama ekspor produk Indonesia selanjutnya.

“Kami harap dari ekspor beras ini akan berlanjut ke rencana jangka panjang yang membuka peluang ekspor produk-produk hortikultura lainnya dan berbagai kerja sama investasi dengan para pengusaha Arab Saudi di masa mendatang. Kami berkomitmen menjaga produksi beras baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. SHS juga memiliki varian produk lainnya yang dapat diekspor seperti ikan, daging, dan produk hortikultura,” jelas Karyawan.

Muhammad Husein dari Al Batlah berterima kasih atas fasilitasi yang diberikan Kepala ITPC Jeddah. Husein juga akan mengawal tahap berikutnya yaitu menyiapkan draf untuk commercial agreement dan memantau pengiriman produk sebagai realisasi MoU. Menurutnya, MoU ekspor beras ini merupakan kerja sama awal untuk mengekspor berbagai komoditas andalan Indonesia ke pasar Arab Saudi seperti kakao dan rempah-rempah.

“Kami berkomitmen untuk membeli produk beras Indonesia dan produk-produk Indonesia lainnya seperti kakao dan rempah-rempah selama kualitas dan harganya kompetitif,” ujar Husein.

Berdasarkan data TradeMap 2020, negara pengekspor beras terbesar ke Arab Saudi adalah India dengan nilai 1,1 miliar dolar AS, diikuti Amerika Serikat (120 juta dolar AS), Pakistan (105 juta dolar AS), dan Thailand (25 juta dolar AS).

Baca juga: UMKM binaan Dahana tingkatkan ekspor arang ke Arab Saudi
Baca juga: Jamu Indonesia tembus pasar Arab Saudi
Baca juga: Dampak COVID-19, Bulog tunda ekspor beras 100.000 ton ke Arab Saudi


Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Ekspor beras giling Kamboja naik 31 persen dalam 8 bulan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar