Desa Tamiajeng, kini jadi jalur favorit pendakian Gunung Penanggungan

Desa Tamiajeng, kini jadi jalur favorit pendakian Gunung Penanggungan

Para pendaki menuju Gunung Penanggungan melalui Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. ANTARA/SI/IS

Timbul inisiatif untuk membuka jalur pendakian ke Gunung Penanggungan tanpa dipungut biaya masuk, namun mereka yang ingin mendaki wajib membawa bibit tanaman jenis apapun yaitu satu orang satu bibit
Mojokerto, Jatim (ANTARA) - Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur menyatakan bahwa  kini desa itu menjadi salah satu tujuan favorit para pendaki pemula Gunung Penanggungan.

"Kami siagakan petugas dan relawan di Gunung Penanggungan selama 24 jam, khususnya pada akhir pekan. Karena pada saat itu pendaki sangat banyak, dan bisa mencapai ratusan orang," kata pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Sumber Lestari Desa Tamiajeng, Suedi dalam keterangan pers, di Mojokerto, Senin.

Ia menjelaskan gunung dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut dilengkapi dengan sistem komunikasi pengamanan oleh petugas dan relawan gunung Penanggungan selama 24 jam.

Suedi menjelaskan bahwa jalur pendakian tersebut, hutannya sempat rusak akibat penjarahan tahun 1998.

Bersama Komunitas Pemuda Trawas (Kompas), dia mengaku sempat menanami kawasan hutan yang gundul akibat penjarahan yang luasnya sekitar 400 hektare tersebut dengan komunitas masyarakat lainnya pada tahun 2003 hingga 2007.

"Saat itu kami kesulitan bibit untuk ditanam di kawasan itu karena yang rusak areanya sangat luas. Dari situlah timbul inisiatif untuk membuka jalur pendakian ke Gunung Penanggungan tanpa dipungut biaya masuk, namun mereka yang ingin mendaki wajib membawa bibit tanaman jenis apapun yaitu satu orang satu bibit," katanya.

Jalur pendakian Gunung Penanggungan lewat Desa Tamiajeng yang dulunya sempat gersang kini sudah lebat dan hijau dengan berbagai jenis tanaman Kehutanan seperti Mahoni dan tanaman Multy Purpose Three Species (MPTS) seperti nangka, petai, durian dan lainnya.

Menurut dia kesadaran akan pentingnya kelestarian hutan itu, lanjut dia, kini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, selain fungsi ekologi dengan kembalinya habitat satwa serta tumbuhan juga bisa dirasakan manfaat sosial dan ekonomi oleh masyarakat, apalagi kawasan yang dulu diperuntukkan sebagai kawasan hutan produksi kini beralih menjadi kawasan lindung.

Ia mengatakan kawasan hutan yang masuk di wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Trawas, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Penanggungan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan itu, kini juga menjadi tumpuan ekonomi bagi sebagian warga lainnya.

Selain tanaman buah-buahan yang ditanam di kawasan itu, kata Suedi, juga banyak benih tanaman sayuran yang ditabur di dalam kawasan lindung tersebut.

Sementara itu Asisten Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (Asper-BKPH) Penanggungan, Agung Wibowo mengatakan bahwa Perhutani bekerja sama dengan LMDH Sumber Lestari dalam pengelolaan kawasan hutan di wilayah kerjanya.

"Kami sangat terbantu dengan adanya jalur pendakian lewat Desa Tamiajeng ini. Hutannya semakin rimbun, dan ini bisa dijadikan edukasi kepada masyarakat yang datang mendaki gunung Penanggungan, bahwa melestarikan hutan itu sangat penting," katanya.

Pihaknya memberikan apresiasi kepada petugas dan relawan Gunung Penanggungan, meski kawasan tersebut sudah hijau mereka tetap menanam pohon.

"Terutama di ketinggian 1.500 mdpl dengan tanaman buah-buahan dan beringin," demikian Agung Wibowo.

Baca juga: BWCF rekomendasikan Gunung Penanggungan warisan budaya dunia

Baca juga: Marinir TNI AL latihan perang di Gunung Penanggungan

Baca juga: BPCB Trowulan ekskavasi candi di Kediri

 

Pewarta: Indra Setiawan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar