Des Moines, Iowa (ANTARA News/AFP) - Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Rabu, mengklaim lagi bahwa mata uang yuan China adalah tidak adil "undervalued" (di bawah nilai sebenarnya), karena anggota parlemen memperdebatkan tawaran untuk menghukum Beijing atas nilai tukar.

"Alasan bahwa saya mendorong China tentang mata uang mereka, itu karena mata uang mereka itu undervalued," kata Obama, ketika ditanya mengapa ia menekan Beijing pada sebuah pertemuan "halaman belakang" dengan pemilih di Iowa Midwest.

Obama mulai mengatakan bahwa nilai tukar yuan-dolar saat ini berarti bahwa barang-barang China efektif 10 persen lebih murah di Amerika Serikat daripada produk AS yang dijual di China, tapi kemudian mengoreksi dirinya sendiri.

"Sekarang, saya tidak mengatakan 10 persen, karena saya tidak ingin pasar keuangan berpikir saya punya kisaran estimasi tertentu."

"Tapi saya pikir orang pada umumnya berpikir bahwa mereka mengelola mata uang mereka dengan cara yang membuat barang-barang kami lebih mahal untuk dijual dan barang-barang mereka lebih murah jual di sini."

"Itu bukan alasan utama untuk ketidakseimbangan perdagangan kami, tapi itu sebuah kontribusi faktor ketidakseimbangan perdagangan kami."

DPR AS pada Rabu diperkirakan meloloskan rancangan undang-undang yang menghukum China atas tuduhan menjaga mata uangnya murah artifisial, dengan banyak menyalahkan yuan lemah untuk kehilangan pekerjaan di AS.

RUU itu akan memperluas kekuasaan Departemen Perdagangan AS dengan memungkinkan untuk menerapkan tarif pembalasan ketika bangsa lain ditemukan memanipulasi nilai mata uangnya.

Beberapa jam sebelum pemungutan suara, bank sentral China berjanji dalam sebuah pernyataan pada website-nya untuk "meningkatkan fleksibilitas mata uang" dan berjanji untuk "secara bertahap meningkatkan pengaturan mekanisme nilai tukar."

Pemerintahan Obama belum mengambil posisi resmi pada undang-undang China, tapi ajudan mengatakan, Presiden menghabiskan sebagian dari pertemuan dengan PM China Wen Jiabao di New York pada masalah ini pekan lalu.(A026/K004)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2010