Wall Street catat penutupan tertinggi, indeks Dow melonjak 448 poin

Wall Street catat penutupan tertinggi, indeks Dow melonjak 448 poin

Para pialang sedang bekerja di lantai Bursa Saham New York, Wall Street, Amerika Serikat. ANTARA/Reuters/pri.

Untuk minggu ini, indeks Dow naik 0,2 persen, serta indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing bertambah 0,4 persen
New York (ANTARA) - Wall Street menguat pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), dengan tiga indeks utama mencatat rekor penutupan tertinggi ketika sektor keuangan dan sektor ekonomi lainnya pulih dari aksi jual yang dipicu oleh kekhawatiran pertumbuhan awal pekan ini.

Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 448,23 poin atau 1,30 persen, menjadi menetap di 34.870,16 poin. Indeks S&P 500 bertambah 48,73 poin atau 1,13 persen, menjadi berakhir di 4.369,55 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 142,13 poin atau 0,98 persen, menjadi ditutup di 14.701,92 poin.

Semua 11 sektor utama S&P 500 berakhir dengan di zona hijau, dengan sektor keuangan dan material masing-masing melonjak 2,87 persen dan 2,01 persen, memimpin kenaikan.

Untuk minggu ini, indeks Dow naik 0,2 persen, serta indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing bertambah 0,4 persen.

Baca juga: Wall Street dibuka naik setelah aksi jual

Reli memungkinkan indeks untuk mencatatkan sedikit kenaikan untuk minggu ini, yang juga melihat reli tajam dalam obligasi pemerintah AS saat investor khawatir pemulihan ekonomi AS mungkin kehilangan tenaga karena varian Delta dari virus corona menyebar secara global.

Obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun AS turun pada Jumat (9/7/2021), menghentikan kenaikan harga delapan hari berturut-turut, sementara sektor keuangan S&P 500 melonjak 2,9 persen, persentase kenaikan harian terbesar di sektor ini sejak 1 Maret.

Sektor keuangan memimpin kemajuan diikuti oleh energi, material dan industri. Bank-bank besar termasuk JPMorgan Chase & Co akan memulai musim pelaporan keuangan kuartal kedua minggu depan.

"Sungguh wajah dari semua kesuraman dan malapetaka dari kemarin," kata Jake Dollarhide, kepala eksekutif Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, dikutip dari Reuters.

"AS berada dalam gelembung dibandingkan dengan bagian dunia lainnya, dalam jeda dari COVID. Berapa lama itu akan bertahan, kami tidak tahu," katanya, tetapi "sampai narasi itu berubah, ini adalah pasar dengan banyak uang gratis dan suku bunga rendah."

Lonjakan besar dalam laba kuartalan diperkirakan akan menandai puncak pertumbuhan keuntungan AS dalam pemulihan dari keruntuhan akibat pandemi tahun lalu. Investor melihat hasil kuartalan mendatang dan perkiraan perusahaan AS tentang pemulihan pada paruh kedua 2021 ketika beberapa khawatir bahwa lonjakan ekonomi baru-baru ini sudah berkurang.

Analis memperkirakan pertumbuhan laba 65,8 persen untuk perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal tersebut, naik dari perkiraan sebelumnya untuk pertumbuhan 54 persen pada awal periode, menurut data Refinitiv IBES.

Di antara saham individu, Levi Strauss & Co naik 1,4 persen karena memperkirakan laba setahun penuh yang kuat setelah mengalahkan perkiraan laba kuartalan karena peningkatan permintaan di seluruh pasar untuk jeans, atasan, dan jaket.

Saham perusahaan ride-hailing China Didi Global Inc yang tercatat di AS naik 7,3 persen setelah mencatat empat sesi kerugian, karena baru-baru ini terkena investigasi dari pengawas internet China.

Baca juga: Wall Street melemah, kekhawatiran momentum pemulihan picu aksi jual
Baca juga: Dolar melemah, investor lebih menyukai mata uang berisiko
Baca juga: Emas "rebound" didukung melemahnya dolar dan kekhawatiran varian Delta

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Jangkau investor ritel, penjualan SBR tembus Rp. 7 triliunĀ 

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar