Cinangka (ANTARA News) - Letusan yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda meningkat, dari 71 kali (Rabu, 17/11) menjadi 72 pada Kamis (18/11.

"Betul, letusan yang dikeluarkan oleh gunung tersebut, bertambah satu kali, dibanding hari sebelumnya," kata Pengamat GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Sikin, Jumat.

Hasil rekaman yang dilakukan oleh pos pemantau GAK, pada Kamis kemarin, jumlah kegempaan 522 kali, dengan rincian, vulkanik dalam (VA) 8 kali, vulkanik dangkal (VB) 92 kali, letusan 72 kali, tremor 189 kali, hembusan 161 kali.

"Statusnya masih level II atau `waspada` dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi Bencana di Bandung masih merekomendasikan warga tidak boleh mendekat pada radius dua kilometer dari titik lokasi kegempaan," katanya menambahkan.

Sementara itu untuk jumlah kegempaan pada Rabu sebelumnya, GAK kegempaan sebanyak 534 kali, dengan rincian VA 10 kali, VB 117 kali, letusan 71 kali, tremor 161 kali, hembusan 175 kali.

"Jadi kalau dibandingkan antara Hari Rabu dan Kamis, hanya jumlah letusannya saja yang lebih banyak hari Kamis, tetapi secara keseluruahan, untuk jumlah kegempaannya masih banyak Hari Rabu," katanya menjelaskan.

Terpisah, salah seorang warga Paku, Anyer, Doni mengaku, letusan yang dikeluarkan dari perut GAK terdengar dengan jelas jika sudah larut malam.

"Kalau tengah malam, saya sangat sering mendengar letusan, kalau pagi dan sore hari tidak terdengar sama sekali, karena banyak suara kendaraan dan hiruk pikuk masyarakat," katanya menjelaskan.

Kendati demikian, dirinya mengaku ada sedikit rasa ketakutan dan was-was, pasalnya berdasarkan sejarah, saat Gunung Krakatau meletus pada tahun 1800-an, terjadi gelombang tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai puluhan meter.

"Kalau mendengar sejarah sepertinya mengerikan, tetapi mudah-mudahan kami disini dijauhkan dan dihindari dari musibah," katanya berdoa.

Senada diungkapkan oleh Erna. Menurut ibu beranak satu yang tinggal di Desa Cikoneng, Anyer ini, kekhawatiran muncul ketika suaminya belum pulang kerja.

"Rasa timbul takut, kalau saya hanya berdua saja dirumah, tapi kalau sudah datang suami, rasa itu sirna. Tapi yang jelas saya sih selalu berharap dan berdoa agar Allah SWT memberikan terbaik bagi umatnya," katanya. (*)

(ANT-152/B/R010/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2010