Depok (ANTARA News) - Indonesia sangat potensial menjadi contoh sebagai negara dengan peradaban dunia Islam yang Rahmatal Lil Alamin.

"Ini menjadi tantangan kita semua untuk dapat mewujudkannya," kata Intelektual Muhammadiyah, Abdul Azis Fahrurozi, dalam Seminar dengan tema Ikhtiar Indonesia Menjadi Pusat Pendidikan dan Peradaban Dunia Islam di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok, Kamis.

Menurut dia, sebagai salah satu indikator negara Indonesia potensial bisa jadi contoh peradaban dunia Islam adalah mayoritas penduduknya yang muslim, dan sumber daya manusianya yang berkualitas.

Ia mengakui dalam mencapai tujuan tersebut ada proses pendekatan secara budaya dan struktural yang bersifat memaksa, sehingga proses menjadi peradaban dunia tersebut dapat berjalan dengan baik.

Azis mengharapkan tidak ada lagi dikotonomi antara pendidikan agama dan umum, sehingga akan berkembangan peradaban Islam di Indonesia.

Ia juga menjelaskan dengan Pancasila sebagai wadah pemersatu, sehingga perbedaan antara penganut agama dapat dihindari. "Ini dapat menjadi peradaban yang baik bagi bangsa Indonesia," katanya.

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatu Ulama (PBNU), Hasyim Muzadi mengatakan bahwa dalam Pancasila subtansial Islam telah masuk.

"Bung Karno merumuskan Pancasila begitu hebat dengan kalimat per kalimat," katanya.

Namun kata dia, Pancasila belum dapat melakukan internalisasi nilai-nilai yang ada.

Lebih lanjut ia mengatakan Indonesia bukan negara Islam tapi mampu melindungi seluruh agama yang dianut bangsa Indonesia.

Sementara Pengamat Politik Islam Universitas Indonesia (UI), Prof Ahmad Suhelmy mengatakan, peradaban barat sebenarnya bukan lahir dengan sendirinya, tetapi adanya pengaruh dari dunia Islam.

Karya-karya besar Leonardo da Vinci banyak diilhami oleh intelektual Islam yaitu Ibnu Sina. "Jadi kontribusi Islam sangat besar dalam peradaban barat," katanya.

Suhelmy juga menegaskan bahwa peradaban yang kuat terjadi karena adanya respon tantangan alam yang ada. Negara dengan empat iklim masyarakatnya lebih cenderung lebih aktif.

(F006/S026)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011