KLHK tingkatkan peran masyarakat untuk mitigasi perubahan iklim

KLHK tingkatkan peran masyarakat untuk mitigasi perubahan iklim

Tim dari KLHK saat melakukan penilaian kampung iklim di Desa Barania Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, ANTARA/HO-Humas Diskominfo Sinjai.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meningkatkan peran masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim melalui Program Kampung Iklim (ProKlim).

"Kegiatan dalam ProKlim ini sebetulnya adalah kegiatan adaptasi dan mitigasi yang memang dalam rangka untuk bagaimana meminimalisasi risiko masyarakat terhadap kejadian-kejadian bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim," kata Direktur Adaptasi Perubahan Iklim KLHK Sri Tantri Arundhati dalam webinar Strategi Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Sub-Urusan Bencana Melalui Program Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) di Jakarta, Rabu.

Indonesia menargetkan 20.000 kampung Iklim hingga 2024, yang mana pada 2021 ditargetkan sebanyak 3.270 lokasi, kemudian penambahan 5.000 lokasi di 2022, penambahan 6.000 lokasi di 2023, dan ditambah 5.730 lokasi pada 2024.

Tantri menuturkan Program Kampung Iklim (ProKlim) merupakan program sinergi aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berlingkup nasional untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan lain untuk melakukan penguatan kapasitas adaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca..

Baca juga: Sasangga Banua Kalsel persiapkan desa mitigasi perubahan iklim

ProKlim juga memberikan pengakuan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah dilakukan yang dapat meningkatkan kesejahteraan di tingkat lokal sesuai dengan kondisi wilayah.

Melalui ProKlim, KLHK mendorong kontribusi dan meningkatkan kemampuan adaptasi masyarakat dalam menghadapi berbagai dampak perubahan iklim seperti mengendalikan kekeringan, banjir dan longsor, meningkatkan ketahanan pangan, mengendalikan penyakit terkait iklim.

Sementara untuk kegiatan mitigasi, masyarakat didorong untuk mengelola sampah, limbah padat dan cair, menggunakan energi baru terbarukan, melakukan konservasi dan menghemat energi, melaksanakan budidaya pertanian rendah emisi gas rumah kaca, meningkatkan atau mempertahankan tutupan vegetasi, serta mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan.

Secara khusus, ProKlim memiliki tujuan untuk mendorong kelompok masyarakat melakukan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat global, memberikan pengakuan terhadap aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat lokal yang telah dilakukan kelompok masyarakat, dan memberikan pengakuan terhadap pemerintah daerah dalam penguatan pelaksanaan ProKlim

ProKlim juga memberikan pengakuan terhadap pendukung dalam rangka fasilitasi pembentukan dan pengembangan ProKlim dan mendorong penyebarluasan kegiatan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang telah berhasil dilaksanakan pada lokasi tertentu.

Untuk meningkatkan jumlah Kampung Iklim, Tantri mengatakan strategi yang dilakukan KLHK adalah penguatan kapasitas masyarakat dan pemerintah daerah, mendorong komitmen para pemangku kepentingan, serta menjalin kemitraan multipihak.

Strategi berikutnya adalah menyebarluaskan keberhasilan Kampung Iklim sehingga bisa direplikasikan di daerah lain, meningkatkan pengembangan dan penerapan teknologi tepat guna, mendorong optimalisasi potensi sumber pendanaan, serta mendorong kepemimpinan di tingkat lokal.

Pelaksanaan ProKlim diharapkan dapat memberikan manfaat sosial, ekonomi dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Baca juga: KLHK: Mitigasi perubahan iklim bisa dimulai dari lingkungan rumah
Baca juga: Pemkot Magelang dukung "Jateng Gayeng Telung Ng" lewat Proklim
Baca juga: Enam desa di Buleleng terima penghargaan Proklim dari KLHK

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Dua negeri di Ambon raih trofi proklim utama dari KLHK

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar