Kudus (ANTARA News) - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1432 Hijriah, Senin, di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jateng, dimeriahkan kirab budaya yang diikuti sekitar 2.000 umat Islam yang ada di wilayah itu.

Selain diikuti ribuan umat muslim yang menjadi peserta kirab, warga sekitar sejak siang juga berbondong-bondong ke lokasi untuk hadir dalam perayaan tahunan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yang di pusatkan di Lapangan Desa Padurenan.

Bahkan, sepanjang rute kirab dipadati warga sekitar yang ingin menyaksikan sejumlah kesenian tradisional, seperti permainan dari batok kelapa, egrang, wayang bambu, "drum band" menggunakan alat dari bahan bekas, dan kesenian barongan.

Selain itu, peserta kirab juga ada yang menampilkan hasil kerajinan khas daerah setempat, anyaman bambu yang dikenal dengan "golok-golok mentok", serta sejumlah ibu dan bapak berpenampilan seperti petani dengan membawa hasil pertanian.

Kirab yang juga dikenal sebagai kirab budaya "maulidan jawiyyan" dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, dengan mengelilingi jalan di desa setempat.

Peserta kirab terdiri atas warga setempat, kelompok petani, olahragawan, pelajar dari sejumlah sekolah tingkat SLTP dan SLTA, murid Taman Kanak-kanak (TK) serta kelompok bermain atau "play group" juga ikut memeriahkan kirab tersebut.

Setelah kirab selesai, dilanjutkan dengan ritual doa yang dipimpin oleh ulama setempat.

Kepala Desa Padurenan Arif Chuzaimahtum mengatakan, jumlah peserta kirab ini mencapai 2.000 orang yang menampilkan potensi masing-masing daerah.

"Kirab budaya ini, merupakan rangkaian kegiatan memperingati Mualid Nabi ini setelah digelar pameran potensi desa setempat, seperti konveksi dan bordir," ujarnya.

Menurut dia, Desa Padurenan memiliki potensi yang cukup besar untuk mendukung masyarakat Kudus sejahtera.

Rangkaian kegiatan yang paling akhir, yakni khitanan massal untuk masyarakat setempat yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Adapun tujuan utama digelarnya kirab budaya maulidan "jawiyyan" sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

"Peringatan maulid (kelahiran) harus dijadikan momentum untuk memajukan umat Islam, serta mengatasi sejumlah persoalan yang menjadi penghambat kemajuan umat," ujarnya.

Makna maulidan "jawiyyan", kata dia, merupakan budaya umat Islam di desa ini yang selalu mengadakan kegiatan pembacaan berjanji dengan lagu bernada pentatonik jawa, menggema dan menjadi pertanda desa ini masih lekat dengan nilai-nilai kearifan lokal yang dibangun para ulama sebelumnya.

"Untuk itu, kami berinisiatif menggugah hati para umat Islam di desa ini dengan mengadakan kirab budaya agar mereka juga ingat peringatan maulid ini," ujarnya.

Momentum tersebut, akan dijadikan kesempatan untuk ikut mempromosikan potensi lokal, seperti kerajinan bordir dan konveksi.

Menurut rencana, katanya, Desa Padurenan akan dilengkapi ruang pamer sejumlah kerajinan masyarakat setempat, seperti konveksi dan bordir, maupun kerajinan lainnya.(*)
(ANT/R009)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011