Industri batu bara tak cukup cepat tunjukkan potensi teknologi bersih

Industri batu bara tak cukup cepat tunjukkan potensi teknologi bersih

Foto Dokumen: Batu bara tampak dalam sebuah wadah saat orang-orang memprotes BlackRock yang berinvestasi di batu bara dan pasir tar di luar kantor pusat mereka di wilayah Manhattan, New York City, New York, AS, 25 Mei 2021. ANTARA/REUTERS/Carlo Allegri

Bogota (ANTARA) - Industri batu bara tidak cukup cepat untuk menjelaskan potensi teknologi bersih yang dapat memberikan tempat bahan bakar fosil dalam matriks energi berkelanjutan, Michelle Manook, kepala eksekutif Asosiasi Batu Bara Dunia (WCA), mengatakan kepada Reuters pada Rabu (27/10/2021).

Batu bara dianggap sebagai pencemar berat dan para pemerhati lingkungan memperingatkan bahwa penggunaan batu bara merupakan hambatan untuk membatasi perubahan iklim. Beberapa perusahaan tambang besar dan dana investasi bergerak menjual aset batu bara.

Citra buruk batu bara sebagian karena sektor ini tidak cukup menunjukkan bahwa teknologi batu bara yang lebih bersih dapat berdampak positif pada emisi, kata Manook kepada Reuters saat wawancara di kantor Asosiasi Pertambangan Kolombia (ACM) di Bogota.

“Kami belum melakukan pekerjaan yang cukup baik,” katanya, menjelaskan bahwa baik produsen maupun konsumen belum cukup mengkomunikasikan teknologi apa yang ada dan tersedia untuk memenuhi syarat batu bara sebagai pilihan energi untuk masa depan.

Teknologi yang tersedia untuk membantu mengurangi emisi termasuk penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS -carbon capture and storage​​​​) dan pembangkit listrik dengan efisiensi tinggi dan rendah emisi (HELE-high-efficiency, low-emission), kata Manook.

Pembangkit listrik tenaga batu bara menggunakan teknologi HELE dapat mengurangi emisi sebanyak 90 persen, menurut Asosiasi Energi Internasional (IEA).

Sementara beberapa ahli mengatakan teknologi CCS sangat penting untuk memenuhi tujuan ekonomi nol karbon bersih pada tahun 2050, para pemerhati lingkungan melihatnya sebagai sarana bagi industri untuk tetap menggunakan bahan bakar fosil.

“Masalah terbesar untuk pasar batu bara adalah bagaimana kami benar-benar mengintegrasikan kembali diri kami ke dalam perdebatan energi ini,” tambah Manook.

Bagi anggota WCA, masa depan energi bukan tentang memilih antara batu bara dan sumber terbarukan, melainkan menggunakannya secara berdampingan, katanya.

“Anggota kami sangat menyukai sifat komplementer dari batu bara dan energi terbarukan,” kata Manook. “Batu bara sangat penting bagi banyak negara berkembang dan kami ingin mendukung penggunaan batu bara dan menjadi bagian dari masa depan tanpa karbon.”



Baca juga: Dunia akan lampaui batas pemanasan global tanpa investasi besar

Baca juga: Kadar CO2 di China diprediksi memuncak lebih awal pada 2022

Baca juga: Kebakaran hutan Amazon dikhawatirkan picu lonjakan emisi karbon global

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Pemprov Jambi alihkan jalur dan jam operasional angkutan batu bara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar