Jakarta (ANTARA News) - Direktur Moderate Muslim Society Zuhairi Misrawi meminta pemerintah bertindak cepat dan sigap mengungkap modus dan pelaku teror bom melalui paket buku.

"Pemerintah harus bertindak cepat untuk memberantas terorisme hingga ke akar-akarnya, bukan hanya aksinya, juga jaringan dan ideologinya," katanya pada diskusi "Polemik: Setelah Buku Terbitlah Isu" di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, jika pemerintah lamban memberantas terorisme dan aksi terorisme makin meluas, maka akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Teror bom melalui paket buku saat ini, kata dia, relatif lebih mudah mengatasinya karena sasarannya perorangan, sehingga pemerintah harus bertindak cepat dan sigap.

Pengamat masyarakat Islam ini menilai, pemerintah lamban dan memberantas teror bom melalui paket buku saat ini, sehingga memunculkan berbagai perspektif masyarakat terhadap aksi teror tersebut.

"Muncul tafsir bahwa aksi bom buku ini merupakan pengalihan isu dan lainnya. Hal ini perlu segera diantisipasi agar aksi ini menjadi lebih masif," katanya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai mengatakan, pemerintah khususnya kepolisian, tidak dapat memaksakan diri untuk bertindak cepat, karena harus melakukan investigasi mendalam untuk mempelajari semua kemungkinan dan variabelnya.

Ansyaad Mbai meminta agar masyarakat, tidak cepat memberikan penilaian negatif kepada pemerintah tapi memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada polisi untuk bekerja.

"Saat ini polisi sedang bekerja untuk modus, sasaran, dan pelaku bom buku," katanya.

Aksi bom melalui kiriman paket buku pada pekan ini ditujukan kepada sejumlah sasaran, antara lain, aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla, Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (Kalakhar BNN) Komjen Pol Gorries Mere, sespuh Pemuda Pancasila Japto S Soerjosoemarno, musisi Ahmad Dhani, seluruhnya beralamat di Jakarta.

Paket berisi bom juga juga ditemukan warga di Perumahan Kota Wisata, Cibubur, Jakarta.
(*)

Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2011