London (ANTARA News) - Masalah pemalsuan umur menjadi perhatian utama Konsul Jenderal RI Dubai, Mansyur Pangeran, pada saat melepas kepulangan TKW Bermasalah (TKW-B) dari Dubai.

KJRI Dubai berhasil membantu menyelesaikan kasus dan memulangkan lima TKW-B dari penampungan sementara KJRI Dubai, ujar Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud KJRI Dubai Adiguna Wijaya dalam keterangan persnya yang diterima Antara London, Minggu.

Kelima TKW-B tersebut semuanya berasal dari Provinsi Jawa Barat, yaitu Indramayu dan Majalengka masing masing Mia Salsabila Binti Masuri Sarta, Waliyah Binti Sarwidi Rasiah, Suniroh Binti Darnika Nijah dari Indramayu, Jawa Barat dan Encas Casmah Binti Anda Karsa dan Entin Supriatin Binti Sumarna Kun dari Majalengka, Jawa Barat.

Sebelumnya mereka berada di penampungan KJRI Dubai selama satu hingga enam bulan, sambil menunggu proses penyelesaian hukum dan administrasi permasalahannya dengan otoritas terkait di Dubai seperti Kantor imigrasi, kepolisian, agen penyalur tenaga kerja lokal dan majikan.

Sejak bulan Januari hingga saat pemulangan yang terakhir ini, KJRI Dubai berhasil membantu menyelesaikan kasus dan memulangkan sebanyak 105 TKI yang bermasalah di Dubai.

Konjen Mansyur menyayangkan masih terjadinya praktek pemalsuan umur para TKW yang bekerja di luar negeri, khususnya di Dubai, dan mengharapkan dimasa datang menolak jika pihak tertentu memaksa memalsukan umur dalam rangka mencari pekerjaan.

Dalam kesempatan pemulangan kali ini, tida dari lima TKW-B yang dipulangkan memiliki perbedaan umur yang lebih tua antara yang dicantumkan dalam paspor dengan umur yang sebenarnya, sesuai pengakuan.

Masalah pemalsuan umur kerap dijumpai KJRI Dubai dalam menangani berbagai kasus TKW-B di penampungan KJRI Dubai.

Ada beberapa TKW-B yang umur dalam paspor dicantumkan lebih tua dari yang sebenarnya dan ada pula yang sebaliknya, dicantumkan lebih muda dari umur yang sebenarnya.

Konjen Mansyur menegaskan untuk menjadi TKI yang bekerja ke luar negeri perlu persiapan yang matang, baik ketrampilan, bahasa asing maupun faktor mental psikologis bekerja dan hidup dalam masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budayanya.

Dari kelima TKW-B yang dipulangkan kali ini, ada juga yang sebelum berangkat tidak mendapatkan pelatihan ketrampilan dari PJTKI di Indonesia.

Beberapa dari mengungkapkan PJTKI yang memberikan pelatihan ketrampilan, seperti memasak, merawat bayi, dan membersihkan rumah, akan tetapi pada saat ujian ketrampilan oknum petugas yang ada disogok meluluskan TKI yang bersangkutan.

Lebih lanjut, Konjen Mansyur mengingatkan para TKW-B yang berhasil dipulangkan ini dapat menjadikan pengalaman pahit permasalahan mereka bekerja di Dubai sebagai pertimbangan jika ingin bekerja ke luar negeri.

Walaupun sebelumnya sebagian dari mereka ada yang pernah bekerja tanpa masalah sebagai PLRT di negara lainnya, seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Yordania, dan China Taipeh akan tetapi tidak ada jaminan bagi mereka akan selalu lancar bekerja tanpa masalah di negara yang lainnya.

Kelima TKW-B ini sebelumnya kabur dari majikan meminta perlindungan ke KJRI Dubai karena beragam masalah, seperti majikan cerewet, ringan tangan, suka menjamah, beban kerja terlalu berat dan kurang waktu istirahat.

Konjen mengharapkan TKW-B yang dipulangkan yang merupakan murid Sekolah TKW yang diselenggarakan kerja sama KJRI Dubai dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) dapat bermanfaat.

Selain menambah pengetahuan yang diperoleh dari mengikuti beragam kelas di Sekolah TKW tersebut sebagai penyemangat dan modal mereka di tanah air nanti untuk melanjutkan belajar atau bekerja serta lebih mengembangakan pengetahuan mereka tersebut.

Konjen Mansyur menghimbau TKW-B yang dipulangkan dapat menjalani kehidupan yang baru sekembalinya ke tanah air. Kiranya mereka harus berupaya mencari penghidupan dan pekerjaan di tanah air dan tidak kembali bekerja sebagai PLRT ke luar negeri.

Tidak mustahil bila mereka dapat membuka usaha sendiri, mengembangkan ketrampilan seperti membuat aksesoris, sebagaimana yang diajarkan pada saat mengikuti Sekolah TKW KJRI Dubai.

Para TKW-B yang dipulangkan semuanya mengikuti kelas bahasa Inggris, menjahit dan aksesoris, serta table manner dan merangkai bunga di Sekolah TKW KJRI Dubai.

Mereka menyatakan bahwa di satu sisi sangat senang dapat kembali ke tanah air, akan tetapi di sisi lain merasa kehilangan dengan suasana kelas Sekolah TKW yang diikuti selama berada di penampungan KJRI Dubai.

Keberadaan Sekolah TKW ini sangat bermanfaat, baik untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan maupun mengatasi stres masalah yang mereka alami.

KJRI Dubai berupaya melaksanakan Sistem Pelayanan Warga (Citizen Service) yang berpedoman kepada pelayanan dan perlindungan WNI dan BHI yang bertanggung jawab.

Kesuksesan pelayanan tersebut juga berkat kerja sama yang melibatkan seluruh instansi terkait, baik Perwakilan RI di luar negeri maupun berbagai instansi di dalam negeri. (ZG/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011