Ukir Rekor Dunia Main Angklung di National Mall, Washington DC

Ukir Rekor Dunia Main Angklung di National Mall, Washington DC

Ilustrasi (ANTARA/R. REKOTOMO)

New York (ANTARA News) - Washington DC, ibu kota negara adi daya Amerika Serikat, akan menjadi saksi apakah Indonesia akan berhasil atau sebaliknya gagal dalam merebut rekor dunia untuk pertunjukan angklung dengan jumlah peserta terbanyak dari berbagai bangsa (multinasional).

Wartawan ANTARA dari New York, Sabtu melaporkan, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, menunjukkan bahwa upaya pemecahan rekor dunia "Guinness World Records" untuk pertunjukan seni angklung oleh peserta multibangsa itu, akan dilakukan pada 9 Juli mendatang di National Mall, Washington DC.

National Mall adalah taman luas di pusat Kota Washington dan tempat beradanya Washington Monument --semacam Monumen Nasional (Monas) di Jakarta-- yang lokasinya antara lain menghadap Capitol Hill (Gedung Kongres AS) serta berseberangan dengan Gedung Putih, yaitu kantor dan kediaman resmi Presiden AS.

National Mall kerap dijadikan tempat berkumpulnya ratusan, ribuan hingga jutaan orang yang menghadiri berbagai peristiwa, mulai dari pertunjukan seni, demonstrasi besar-besar, perayaan Hari Kemerdekaan AS hingga pelantikan Presidan AS --termasuk pelantikan Presiden Barack Obama pada 20 Januari 2009.

Upaya pembuatan rekor dunia permainan angklung tersebut merupakan salah satu cara terkini yang ditempuh KBRI Washington DC dalam mempromosikan Indonesia, termasuk dengan memanfaatkan pengakuan UNESCO November tahun lalu terhadap angklung Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Saat berbincang dengan ANTARA di New York usai meluncurkan Kompetisi Batik Amerika pertengahan pekan ini, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal terlihat antusias saat berbicara soal tekad Indonesia membuat rekor dunia angklung tersebut.

"Kita sudah kerja sama dengan Guinness World Records," katanya.

Ia mengungkapkan, saat ini ribuan angklung sedang dibuat dan dipersiapkan di Indonesia di bawah dukungan Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM).

"Saya sebaiknya tidak bicara tentang angka dulu, tapi ribuan angklung sebanyak target kita sedang dicetak di Jakarta," katanya ketika ditanya target jumlah peserta pembuat rekor.

Ribuan angklung tersebut akan dikirim ke Washington menjelang berlangsungnya upaya pemecahan rekor 9 Juli 2011.

Antusiasme yang ditunjukkan Dino bukan berarti upaya pembuatan rekor itu bisa otomatis tercapai karena faktor kemungkinan gagal juga bisa muncul.

"Kami (para peserta, red) hanya akan diberi kesempatan mencoba sebanyak tiga kali. Kalau sudah tiga kali gagal memainkan lagu, ya berarti gagal lah pembuatan rekor," ucapnya.

Para calon peserta yang akan mengikuti upaya pembuatan rekor, diharuskan mendaftarkan diri dulu melalui surat elektronik yang beralamat "indofest2011@embassyofindonesia.org".

Pada 9 Juli nanti, setiap peserta yang masuk ke arena pembuatan rekor di National Mall akan diserahi sebuah angklung dan kehadiran mereka dihitung di bawah pengawasan pihak Guiness World Records.

Setelah berkumpul di arena, para peserta selama 30 menit akan mendapat pelajaran memainkan lagu dengan angklung.

Mereka akan dipandu oleh konduktor dari Saung Angklung Mang Udjo --yang berbasis di Bandung, Jawa Barat.

"Setelah istirahat sebentar, barulah pementasan sebenarnya untuk membuat rekor dilakukan. Mereka bisa tiga kali coba memainkan lagu. Hanya satu lagu yang akan dimainkan, batasnya lima menit," papar Dino.

Dino mengakui bahwa saat ini aspek logistik merupakan tantangan terbesar dalam menempuh upaya pembuatan rekor jumlah pemain angklung terbanyak multibangsa.

"Bagaimana kita menggiring ribuan orang dan dalam waktu yang singkat bisa mengkoordinir semua ini. Jadi tantangan yang paling besar logistik, apalagi tempat itu nanti akan macet luar biasa, itu (daerah sekitar National Mall, red) salah satu simpang yang paling sibuk di Amerika. Tapi kita sudah rapat dengan pemerintah setempat," ujarnya.

Selain hari penyelenggaraan pembuatan rekor, Dino mengatakan tanggal 9 Juli nanti juga akan menjadi Hari Indonesia.

"Ke manapun kita melihat, nanti orang akan pakai udeng (topi Bali, red), sarung atau selendang. Jadi Indonesia akan di mana-mana, termasuk angklungnya," katanya.

Berkaitan dengan itu, ungkapnya, KBRI Washington telah memesan 2.000 `udeng` serta ribuan sarung dan selendang batik untuk dibagikan kepada para peserta pembuatan rekor angklung.

Mengapa 9 Juli?

"Alasannya `simple`, karena hanya hari itulah yang dikasih oleh pemerintah setempat kepada kita. Tapi menurut saya bagus karena itu tak lama setelah 4th of July (Hari Kemerdekaan AS, red), masih ada suasana perayaan," ujar Dino.

Di Indonesia, rekor jumlah pemain angklung telah dicatat oleh Musium Rekor Indonesia (MURI), yaitu ketika 10.000 orang pada 27 Agustus 2007 memainkan angklung di kampus Universitas Padjadjaran dalam rangkaian Dies Natalis ke-50 universitas yang berada di Bandung itu.  (TNY/P004/K004)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2011

BMPD Jabar dorong Saung Angklung Udjo suguhkan pertunjukan virtual

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar