Suku Kerinci Lebih Tua dari Indian Inka ?

Jambi (ANTARA News)- Peneliti antropologi urban dari Universitas Diponegoro, Radjimo, menyatakan suku Kerinci yang mendiami dataran tinggi bukit barisan di sekitar Gunung Kerinci  lebih tua dari suku Inka, Indian di Amerika.

"Dari  kesimpulan riset Dr Bennet Bronson peneliti dari AS bersama Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Jakarta pada 1973, suku Kerinci bahkan jauh lebih tua dari suku Inka (Indian) di Amerika," kata Radjimo  di Jambi akhir pekan ini.

Hal itu berarti suku Kerinci tidak hanya lebih tua dari proto-melayu.

Hal yang dikemukakan Radjimo mempertegas pernyataan budayawan Kerinci Iskandar Zakaria bahwa suku Kerinci jauh lebih tua dari Proto-Melayu.

Radjimo yang datang melakukan riset ke Jambi dalam kapasitasnya sebagai anggota gabungan peneliti Intersepsi di Jakarta tersebut mengungkapkan, salah satu pembuktian yang dikemukakan tim Bennet Bronson itu adalah tentang manusia `Kecik Wok Gedang Wok.

Ia merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi Kerinci lebih dari 10.000 tahun lalu itu, belum mempunyai nama panggilan secara individu sampai masuknya suku Proto-Melayu.

"Sedangkan suku Indian Inka di Amerika yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu suku dan ras tertua didunia diketahui pada zaman yang sama sudah memiliki nama, seperti Big Buffalo (Kerbau Besar), Little Fire (Api Kecil) dan lainnya," terang Radjimo.

Di sisi lain Radjimo juga mengutip hasil penelitian Kern (1889) dan Sarasin (1982) yang menyatakan pada tahun 4.000 SM terjadi perpindahan Proto-Melayu (rumpun Polinesia) dari Alam Melayu ke pulau-pulau di Lautan Teduh sebelah timur dan pulau-pulau di Lautan Hindia sebelah barat,

Maka saat itulah pula terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat lain pada Alam Melayu seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke Alam Kerinci.

Menurut Kern, alam Kerinci saat itu telah didiami oleh manusia, dan mereka penduduk pribumi inilah yang disebut sebagai `Kecik Wok Gedang Wok`.

Namun, saat itu jumlah Proto-Melayu yang lebih dominan dari `Kecik Wok Gedang Wok` menyebabkan kaum pribumi tersebut secara perlahan menjadi lenyap dalam percampuran darah antar pendatang dan pribumi.

Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menjadi nenek moyang orang Kerinci modern hingga ke generasi saat ini.

"Dari segi antropologi, Kerinci masih menyajikan suatu misteri, misalnya asal muasal orang Kerinci masih begitu komplit dan komplek sehingganya sangt menarik minat para peneliti untuk merisetnya dari berbagai sisi dan aspek hingga saat ini," terang Radjimo.

Hal lain yang sering dijadikan sampel penelitian oleh pada peneliti tersebut adalah keragaman bahasa dan dialek di Kerinci. Dengan bahasa yang sangat beragam, sekitar 135 buah dialek, yang dipakai hanya di sepanjang lembah, memperumit penelitian etnografi.

Beberapa penelitian menyebutkan bahawa orang Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang mula-mula ada di Sumatera.

Kelompok suku bangsa ini kemudian dikenal dengan `Kecik Wok Gedang Wok` yang diduga telah berada di wilayah `Alam Kerinci semenjak 10.000 tahun silam (Whitten, 1987).

Para ahli belum bisa memastikan termasuk kedalam kelompok ras mana sebenarnya `Kecik Wok Gedang Wok`, karena mereka telah lebur dalam percampuran darah dengan penduduk yang datang kemudian yakni proto-Melayu, sehingganya sisa dari kelompok manusia `Kecik Wok Gedang Wok` ini sulit untuk ditemukan lagi.
(KR-BS/M027)

Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar