Invasi secara pemikiran bisa lebih dahsyat seribu kali lipat daripada perang fisik
Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan kegiatan membaca nyaring dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

“Dengan baca nyaring hubungan anak dengan orang tua semakin dekat. Kemampuan berbahasa anak pun semakin terasah,” ujarnya dalam peringatan Hari Baca Nyaring Sedunia atau World Read Aloud Day (WRAD) 2022 di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan aktivitas membaca nyaring penting untuk membangun pengetahuan yang dibutuhkan ketika membaca. Melalui aktivitas membaca nyaring, orang tua memberikan contoh cara membaca yang baik, benar, lancar, fasih, dan bermakna.

“Melihat orang tuanya bercerita, secara tidak langsung anak akan mendapatkan banyak kosakata yang merupakan modal bagi anak untuk bisa berbicara, membaca, dan menulis,” kata dia.

Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek Jumeri menambahkan saat ini aspek literasi dan numerasi menjadi bagian dari strategi pengajaran dan penguatan dalam belajar.

"Kami akan menjadikan kegiatan membaca menjadi menyenangkan dan berkesan. Strategi kami, sebelum memulai aktivitas belajar, guru bisa membacakan cerita dan siswa menyimak. Lain waktu bergantian,” katanya.

Baca juga: Tumbuhkan minat baca anak-anak dengan membaca nyaring

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando menjelaskan membaca penting karena pada hakikatnya tulisan memonopoli kebenaran.

“Invasi secara pemikiran bisa lebih dahsyat seribu kali lipat daripada perang fisik,” katanya.

Ia mengatakan kondisi masa awal kemerdekaan angka melek aksara masyarakat Indonesia baru dua persen. Maka dari itu, fokus pembangunan di awal kemerdekaan pada pemberantasan buta huruf.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Presiden Jokowi menekankan percepatan pembangunan dengan terbangun struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di berbagai wilayah yang didukung oleh SDM berkualitas dan berdaya saing.

“Peningkatan kualitas SDM sangat terkait dengan kegemaran membaca yang membudaya sebab usaha tersebut berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar,” katanya.

Founder Reading Bug sekaligus Pembina Read Aloud Indonesia Rossie Setiawan menerangkan membaca nyaring kegiatan sederhana.

 Baca juga: Mendongeng dan membaca nyaring, apa bedanya?

Orang tua menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti oleh anak. Dari aktivitas membaca nyaring, anak akan banyak mendapatkan kosakata yang pada akhirnya mendorong anak untuk berbicara.

“Membaca nyaring adalah cara mudah untuk mengembangkan literasi sejak dini,” katanya.

Ia menerangkan tujuan membaca nyaring bukan untuk menyelesaikan satu buku, melainkan proses interaksi, dialog, kedekatan komunikasi anak dengan orang tua.

Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia Semiarto Aji Purwanto menjelaskan sejak dulu nenek moyang Indonesia telah terbiasa dengan tradisi tutur (lisan), membacakan dongeng setiap kali sebelum anak tidur.

Kehadiran medium digital seperti YouTube dan sebagainya malah menggeser peran yang semestinya diperankan para orang tua. Misalnya, kedekatan antara anak dan orang tua yang saat ini lebih banyak diambil alih dunia digital.

Baca juga: Dongeng yang mengukir senyum anak-anak di "Bumi Mananjak"
Baca juga: Mendongeng torehkan kenangan manis untuk buah hati kelak

Pewarta: Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2022